Sebanyak 23.971 Warga Lumajang Menderita Diabetes, Dinkes Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini
Dinkes P2KB Lumajang (Istimewa)
Dinkes P2KB Lumajang (Istimewa)
Lumajang, InfoPublik – Sebanyak 23.971 warga Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, tercatat menderita diabetes melitus sepanjang 2025. Meski sebagian besar penderita berada pada kelompok usia dewasa, terutama di atas 40 tahun, temuan kasus pada anak menunjukkan penyakit tersebut dapat menyerang berbagai kelompok usia.
Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Lumajang mencatat, sedikitnya dua kasus diabetes melitus pada anak ditemukan melalui pelayanan kesehatan di puskesmas pada 2026.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes P2KB Kabupaten Lumajang, Marshall, mengatakan kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa upaya pencegahan perlu dimulai sejak dini.
“Diabetes melitus dapat terjadi pada semua kelompok usia, termasuk anak-anak. Pada 2026, setidaknya ditemukan dua kasus diabetes melitus pada anak yang tercatat dalam pelayanan kesehatan di Puskesmas,” ujar Marshall, Rabu (19/8/2026).
Menurutnya, sejumlah faktor risiko diabetes, terutama diabetes tipe 2, berkaitan dengan pola hidup. Kurangnya aktivitas fisik, berat badan berlebih, serta pola makan tidak sehat dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit tersebut.
Pencegahan dapat dimulai dari lingkungan keluarga dengan membiasakan aktivitas fisik, menjaga berat badan ideal, serta menerapkan pola makan bergizi seimbang.
“Pada diabetes tipe 2, masalahnya bukan hanya karena insulin berkurang, tetapi juga karena tubuh mengalami resistensi insulin. Kondisi ini menyebabkan insulin tidak dapat bekerja secara optimal sehingga kadar gula dalam darah meningkat,” jelasnya.
Marshall mengingatkan masyarakat agar membatasi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula maupun kalori. Kebiasaan kurang bergerak juga perlu dikurangi dengan meningkatkan aktivitas fisik dalam keseharian.
Selain perubahan pola hidup, pemeriksaan kesehatan secara berkala diperlukan untuk mengetahui kondisi gula darah dan mengenali faktor risiko sejak awal, terutama bagi masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi.
Kementerian Kesehatan juga menempatkan pemeriksaan rutin dan perubahan perilaku sebagai bagian dari pencegahan diabetes. Aktivitas fisik secara teratur dapat membantu mengendalikan gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin.
“Yang paling penting adalah melakukan deteksi dini, menjaga pola makan, aktif bergerak, mempertahankan berat badan yang sehat, tidak merokok, serta mengikuti pengobatan dan pemeriksaan secara teratur bagi yang sudah didiagnosis diabetes melitus,” kata Marshall.
Bagi penderita diabetes, pengelolaan penyakit perlu dilakukan secara konsisten. Pemeriksaan dan kontrol rutin diperlukan agar tenaga kesehatan dapat memantau kondisi pasien serta menentukan tindak lanjut yang dibutuhkan.
Pedoman pelayanan Kementerian Kesehatan turut menekankan pentingnya pola makan seimbang, aktivitas fisik, istirahat cukup, pengelolaan stres, serta kepatuhan menjalani pengobatan dan pemeriksaan bagi penderita diabetes.
Pengendalian diabetes juga diperlukan untuk mengurangi risiko komplikasi yang dapat memengaruhi berbagai organ tubuh.
“Dengan pengendalian yang baik, risiko komplikasi dapat ditekan dan penderita tetap dapat hidup sehat dan produktif,” pungkas Marshall.
Pencegahan diabetes dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari di rumah. Keluarga berperan membiasakan anak mengonsumsi makanan bergizi seimbang, aktif bergerak, serta tidak berlebihan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula.
Kebiasaan hidup sehat yang dibarengi pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi langkah penting untuk mengenali risiko lebih awal sekaligus mencegah diabetes berkembang tanpa disadari.
(MC Diskominfo Kab. Lumajang/Ard/An-m)
© Copyright 2026, All Rights Reserved