Harganas 2026: Saatnya Ayah Hadir dalam Setiap Denyut Kehidupan Keluarga
Pontianak, InfoPublik – Di tengah hiruk-pikuk pembangunan dan derasnya arus digitalisasi, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mengingatkan bahwa fondasi terkuat sebuah bangsa sesungguhnya bermula dari ruang-ruang terkecil yang disebut keluarga.
Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 tahun 2026 yang mengusung tema "Ayah Wajib Hadir" menjadi momentum refleksi mendalam bahwa kemajuan Indonesia Emas 2045 tidak semata-mata ditentukan oleh pembangunan fisik atau kebijakan makro ekonomi, tetapi juga oleh kualitas pengasuhan dan ketahanan keluarga yang dibangun dari keterlibatan aktif seorang ayah.
Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Harisson, dalam amanatnya saat memimpin upacara peringatan Harganas ke-33 di Halaman Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Rabu (1/7/2026), menegaskan bahwa peringatan tahunan ini bukan sekadar agenda seremoni, melainkan seruan untuk memperkuat pondasi utama bangsa.
Upacara yang dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kalimantan Barat, para Kepala Perangkat Daerah di lingkungan Pemprov Kalbar, serta Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Barat itu menjadi panggung penting untuk mengingatkan kembali bahwa kehadiran figur ayah di dalam keluarga tidak boleh direduksi hanya sebagai pencari nafkah semata.
Harisson mengungkapkan, di era bonus demografi yang menjadi jendela emas bagi Indonesia, kualitas sumber daya manusia menjadi penentu utama keberhasilan pembangunan. Namun, bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan apabila setiap keluarga mampu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan memiliki daya saing. Jika keluarga kuat, maka bangsa juga akan semakin kuat, tegasnya.
"Di sinilah peran sentral keluarga sebagai benteng pertama dalam menyiapkan generasi unggul yang akan meneruskan estafet kepemimpinan bangsa," ungkapnya.
Dinamika global yang penuh ketidakpastian serta kemajuan teknologi digital yang eksponensial telah menghadirkan tantangan baru yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Sekda Kalbar menyoroti bahwa ancaman terhadap anak-anak kini tidak selalu datang secara langsung, melainkan dapat hadir melalui layar-layar kecil yang setiap hari diakses.
Gadget dan media digital dapat menjadi pintu masuk berbagai pengaruh negatif apabila orang tua tidak hadir mendampingi dan membimbing. Anak-anak dapat dengan mudah terpapar konten-konten yang berpotensi menggerus karakter dan membentuk kepribadian yang menyimpang jika tidak ada pendampingan intensif dari orang tua.
Karena itu, Harisson menekankan bahwa kehadiran seorang ayah tidak cukup hanya sebagai tulang punggung ekonomi keluarga. Seorang ayah harus hadir secara emosional, menjadi teladan, membangun komunikasi yang terbuka dan hangat, serta memberikan perhatian penuh kepada istri dan anak-anak.
Makna dari tema Ayah Wajib Hadir adalah kehadiran yang utuh, bukan sekadar berada di bawah atap yang sama, tetapi benar-benar hadir dalam denyut kehidupan keluarga, tuturnya dengan penuh penekanan.
Dalam kehidupan sehari-hari, peran ini bisa diwujudkan melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana namun sarat makna. Sekda Harisson mengajak para ayah untuk membangun komunikasi yang hangat dengan memanfaatkan waktu makan bersama sebagai ruang interaksi tanpa gangguan gawai. Saat makan bersama, simpan terlebih dahulu telepon genggam, gunakan kesempatan itu untuk berbincang, mendengarkan cerita anak-anak, memahami apa yang mereka alami, serta membangun kedekatan di dalam keluarga, pesannya.
Momen-momen seperti inilah yang menjadi perekat ikatan batin antara ayah dan anak, sekaligus menjadi benteng utama dalam membentuk karakter anak. Anak-anak yang merasa didengar dan diperhatikan akan lebih terbuka kepada orang tuanya sehingga tidak mudah mencari pelarian atau pengaruh dari lingkungan yang kurang baik.
Lebih lanjut, Harisson mengingatkan bahwa tanggung jawab mendidik anak bukanlah beban yang hanya dipanggul oleh seorang ibu. "Pembinaan keluarga tidak boleh hanya dibebankan kepada ibu, ayah memiliki tanggung jawab yang sama dalam mendidik, membimbing, dan membesarkan anak-anak agar tumbuh menjadi generasi yang berkualitas," tegasnya.
Keseimbangan peran dalam pengasuhan ini penting untuk menciptakan ekosistem keluarga yang harmonis dan kondusif bagi tumbuh kembang anak. Ketika ayah dan ibu bersinergi, anak-anak akan merasakan keamanan emosional yang menjadi modal utama bagi pembentukan kepercayaan diri dan kemampuan sosial mereka.
Di akhir amanatnya, Sekda Provinsi Kalimantan Barat mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan semangat Ayah Wajib Hadir sebagai gerakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita mulai dari rumah masing-masing, hadirlah bukan hanya secara fisik, tetapi juga dengan perhatian, komunikasi, kasih sayang, dan keteladanan, ujarnya dengan penuh harap.
Peringatan Harganas ke-33 ini diharapkan menjadi pengingat bahwa dari keluarga yang kuat akan lahir generasi yang tangguh dan Indonesia yang semakin maju. Sebab, pada akhirnya, kualitas sebuah bangsa tidak diukur dari megahnya gedung pencakar langit atau derasnya lalu lintas informasi, tetapi dari seberapa kuat ketahanan keluarga-keluarga yang menjadi penyangganya. (wnd)