PMI DIY: Pemenuhan Stok Darah Aman Memerlukan Kolaborasi Lintas Sektor
Sleman, InfoPublik – Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), GBPH Prabukusumo, menegaskan pemenuhan kebutuhan darah yang aman, steril, dan berkualitas tinggi di seluruh fasilitas kesehatan tidak dapat dibebankan kepada PMI sendirian, melainkan memerlukan ekosistem kolaboratif yang solid antara pemerintah daerah, sektor swasta, pemangku kepentingan, dan media massa
Hal itu disampaikan Prabukusumo, dalam peringatan Hari Donor Darah Sedunia, dan diikuti aksi kemanusiaan akbar di Sleman City Hall, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Minggu (14/6/2026).
Kebutuhan akan darah segar di rumah sakit sering kali bersifat mendadak dan kritis, terutama untuk menangani kasus kedaruratan bencana, konflik, perdarahan hebat saat persalinan, anemia berat pada anak-anak, demam berdarah, kelainan ginjal, thalasemia, hingga tindakan operasi besar yang mencakup semua lapisan usia masyarakat.
Prabukusumo menegaskan, lembaga yang dipimpinnya memegang mandat penuh dalam mengelola dan mengampanyekan donor darah sukarela secara nasional.
Tugas mulia tersebut telah diatur secara legal melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2018 tentang Kepalangmerahan serta Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Menurutnya, ketersediaan kantong darah yang steril, aman, dan terjangkau di pasaran sangat bergantung pada konsistensi para pendonor sukarela.
"Setetes Darah untuk Kemanusiaan. Berikan Darah. Selamatkan Kehidupan. Upaya promosi donor darah sukarela perlu dilakukan secara rutin, meluas, dan proaktif untuk meningkatkan jumlah pendonor darah baru di samping untuk mempertahankan pendonor darah sukarela yang telah menyumbangkan darahnya secara rutin," ujar pria yang akrab disapa Gusti Prabu tersebut saat memberikan sambutan di lokasi acara.
Gusti Prabu mengatakan, pemenuhan kebutuhan darah yang aman dan berkualitas tinggi di seluruh fasilitas kesehatan DIY tidak bisa dibebankan kepada PMI sendirian.
Diperlukan sebuah ekosistem kolaboratif yang solid antara jajaran pemerintah daerah, sektor swasta, pemangku kepentingan, serta peran media massa untuk mengedukasi masyarakat secara masif agar tidak takut melakukan donor darah.
"Tentunya dalam hal ini merupakan tanggung jawab bersama. PMI membutuhkan dukungan kolaborasi dari pemerintah, pemangku kepentingan lainnya, swasta, dan media. Peningkatan keterlibatan berbagai elemen masyarakat akan menciptakan ekosistem pendonor darah yang sadar, teredukasi, dan berkelanjutan sehingga mampu menjawab kebutuhan darah," ungkap Gusti Prabu.
Sebagai bentuk transparansi publik, PMI DIY kini rutin memperbarui dan menginformasikan ketersediaan stok darah harian mereka melalui berbagai kanal komunikasi, mulai dari media cetak, siaran radio, hingga akun media sosial resmi yang dapat diakses warga dengan mudah kapan saja.
Di penghujung acara, Gusti Prabu menyampaikan rasa terima kasih dan penghormatan mendalam kepada seluruh pejuang kemanusiaan yang hadir. Ia menantang generasi muda yang berbadan sehat untuk mendobrak rasa takut dan mulai mengonversi aktivitas donor darah menjadi bagian dari gaya hidup modern yang menyehatkan karena dapat merangsang regenerasi sel darah baru di dalam tubuh.
Menariknya, ia juga menyelipkan pesan jenaka yang segar di akhir pidatonya untuk menarik minat para remaja. Gusti Prabu berseloroh agar masyarakat memilih pasangan hidup yang memiliki rekam jejak sebagai pendonor darah aktif karena kepedulian sosialnya sudah teruji secara nyata.
"Dalam mencari pacar atau pasangan carilah yang berdonor darah secara rutin. Darah saja diberikan apalagi cinta. Para orang tua yang mencari menantu juga carilah menantu yang rutin berdonor darah," kelakar Gusti Prabu yang langsung disambut tepuk tangan riuh dari ratusan hadirin. (Kusnadi/KIM Berbah)
© Copyright 2026, All Rights Reserved