Budidaya Tembakau Makin Meluas, Kini Tersebar di 26 Kecamatan Bojonegoro
Istimewa
Istimewa
Bojonegoro, InfoPublik – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro menyediakan benih tembakau bersertifikat dan berlabel resmi guna mendukung peningkatan produksi tembakau pada musim tanam 2026. Program tersebut mendapat respons positif dari petani yang antusias memanfaatkan benih unggul dengan kualitas terjamin.
Pengawas Mutu Hasil Pertanian Ahli Muda sekaligus Subkoordinator Tanaman Perkebunan DKPP Bojonegoro, Bambang Wahyudi, mengatakan seluruh varietas benih yang disalurkan telah disesuaikan dengan kebutuhan pasar industri guna memberikan kepastian serapan hasil panen petani.
“Kami menguji daya kecambah benih-benih ini secara ketat setiap enam bulan sekali di laboratorium. Keberhasilan sektor hulu pertanian menjadi prioritas kami, sehingga varietas yang kami salurkan ke lapangan, seperti Virginia dan Jawa, telah disesuaikan dengan kebutuhan pasar,” ujar Bambang di Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur, pada Rabu (3/6/2026).
Hingga akhir Mei 2026, penyaluran benih tembakau tercatat mencapai 8,743 kg dari total stok 14,5 kg yang berasal dari sisa cadangan tahun sebelumnya dan pengadaan baru. Benih tersebut telah diserap oleh sejumlah kelompok tani di berbagai wilayah sentra tembakau.
Varietas Python 4 asal Probolinggo menjadi yang paling diminati petani. Seluruh kuota sebanyak 3,5 kg telah habis terserap. Sementara varietas K326 yang semula tersedia 2,03 kg kini hanya menyisakan sekitar 460 gram.
Saat ini, stok benih yang tersisa sekitar 5 kg dan didominasi varietas Jawa, seperti Rejeb Gagang Sidi, Grompol Jatim, Kasturi 2, dan Jinten Pak Pie. Varietas tersebut banyak dibutuhkan petani di Kecamatan Temayang, Bubulan, Purwosari, dan Tambakrejo.
DKPP juga menyiapkan stok tersebut untuk mengantisipasi permintaan dari wilayah sentra tembakau lainnya, seperti Kecamatan Kepohbaru, Kedungadem, Baureno, dan Sukosewu yang masih menyelesaikan panen komoditas sebelumnya sebelum memasuki masa persemaian tembakau.
Menurut Bambang, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menargetkan luas tanam tembakau pada 2026 mencapai hampir 16.000 hektare. Angka tersebut meningkat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang berada di kisaran 15.000 hektare.
Budidaya tembakau di Bojonegoro juga terus berkembang. Dari 28 kecamatan, sebanyak 26 kecamatan kini aktif menanam tembakau. Hanya Kecamatan Bojonegoro dan Kecamatan Kapas yang belum melaporkan adanya penanaman tembakau secara luas.
Untuk mendukung keberhasilan budidaya, DKPP mengalokasikan bantuan benih sebanyak 10 gram per hektare. Dari jumlah tersebut, petani berpotensi memperoleh sekitar 18.000 hingga 20.000 bibit tembakau siap tanam.
Padahal, kebutuhan riil petani berkisar 6 hingga 8 gram per hektare. Kelebihan alokasi tersebut sengaja diberikan sebagai cadangan apabila terjadi kegagalan pada proses persemaian.
Meski antusiasme petani cukup tinggi, DKPP mengingatkan adanya tantangan cuaca berupa fenomena kemarau basah yang ditandai curah hujan masih tinggi pada awal musim tanam.
Kondisi tersebut berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman tembakau, terutama setelah dipindahkan ke lahan karena rentan mengalami kerusakan akibat genangan air. Pada kondisi tertentu, petani bahkan harus melakukan penyulaman atau tanam ulang beberapa kali yang berdampak pada meningkatnya biaya produksi.
Sebagai langkah antisipasi, DKPP mengimbau petani untuk rutin memantau informasi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta memperbaiki tata kelola lahan.
“Kami meminta petani untuk terus memperbaiki manajemen lahan. Salah satunya dengan membuat guludan atau bedengan semai yang lebih tinggi serta mengoptimalkan saluran drainase agar air hujan tidak menggenang dan merusak perakaran tanaman tembakau,” kata Bambang.
Melalui penyediaan benih unggul dan pendampingan teknis yang berkelanjutan, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berharap produktivitas tembakau tetap terjaga dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani di daerah.
[fif/nn]