Bojonegoro, InfoPublik — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro telah menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) sebanyak 39 kali sepanjang 2026, melampaui target awal sebanyak 18 kali. Program tersebut menjadi salah satu langkah pemerintah daerah dalam mengendalikan inflasi sekaligus membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
Puncak pelaksanaan GPM dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia 2026 berlangsung di Pendopo Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur (Jatim), pada Kamis (22/10/2026).
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Zaenal Fanani, menjelaskan bahwa pelaksanaan GPM telah melampaui target yang ditetapkan pemerintah daerah.
“Meskipun awalnya ditargetkan sebanyak 18 kali, GPM telah terealisasi hingga 39 kali. Selain itu, juga ada program 'Pasar Isya' direncanakan digelar sebanyak 11 kali. Dengan demikian, akumulasi kegiatan intervensi pangan oleh DKPP sepanjang tahun ini mencapai 50 kali pelaksanaan GPM,” ujar Zaenal.
Menurut Zaenal, GPM bertujuan meningkatkan akses masyarakat terhadap bahan pangan pokok dengan harga yang lebih terjangkau sekaligus mendukung stabilitas pasokan dan harga di tingkat konsumen.
Sementara itu, Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Kabupaten Bojonegoro,Sukaemi, mengatakan pelaksanaan GPM melibatkan berbagai pihak untuk memperkuat upaya pengendalian inflasi daerah.
“DKPP bersinergi beberapa stakeholder mulai UMKM, Bulog, mitra lainnya seperti KDS, dan pelaku usaha lainnya,” katanya.
Sukaemi menjelaskan, pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus berupaya menjaga keterjangkauan harga sembilan bahan pokok dengan memperhatikan ketentuan harga eceran tertinggi (HET) maupun harga acuan penjualan.
Kolaborasi antara pemerintah, penyedia bahan pangan, dan pelaku usaha dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga serta memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Beras SPHP Rp11.500 per kg, Minyakita Rp15.000 per Liter
Dalam GPM di Kecamatan Padangan, masyarakat dapat membeli sejumlah komoditas pangan dengan harga yang telah ditetapkan.
Beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dijual seharga Rp11.500 per kg, sedangkan beras premium Rp14.900 per kg.
Untuk kebutuhan minyak goreng, Minyakita tersedia dengan harga Rp15.000 per liter dan minyak goreng premium Rp20.500 per liter.
Komoditas lainnya meliputi gula pasir Rp17.500 per kg, telur ayam ras Rp22.000 per kg, bawang merah Rp5.000 per 250 gram, dan bawang putih Rp6.000 per 250 gram.
Sementara itu, cabai rawit merah dan cabai merah keriting masing-masing dijual Rp5.000 per kemasan, sedangkan tomat Rp2.000 per kemasan. Pengunjung juga dapat membeli buah-buahan serta berbagai produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.
Camat Padangan Novita Sari menyambut baik penyelenggaraan GPM di wilayahnya, terutama karena masyarakat membutuhkan akses bahan pangan dengan harga terjangkau.
Menurut Novita, pelaksanaan Hari Pangan Sedunia yang bertepatan dengan Hari Santri Nasional juga menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah, ulama, dan masyarakat.
“Masyarakat sudah tidak sabar menanti pasar murah yang digelar,” ujarnya.
Pelaku UMKM Rasakan Manfaat Pangan Murah
Antusiasme warga terlihat dari banyaknya pengunjung yang mendatangi stan bahan pangan untuk membeli kebutuhan rumah tangga maupun bahan baku usaha.
Salah satunya Erlina Yuli Hermanto, guru pendidikan anak usia dini (PAUD) sekaligus pelaku UMKM keripik tempe asal Desa Dengok, Kecamatan Padangan.
Erlina mengaku memanfaatkan GPM untuk membeli sejumlah kebutuhan produksi, terutama minyak goreng yang menjadi bahan penting dalam usaha keripik tempenya.
“Kalau beras sudah punya. Paling butuh minyak goreng karena jualan keripik tempe. Harganya terjangkau, apalagi kita ibu-ibu pasti cari yang harganya murah,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah semakin sering menyelenggarakan pasar murah karena selain membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, program tersebut juga dapat mengurangi pengeluaran pelaku usaha kecil.
[cs/nn]