Surabaya, InfoPublik – Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 10 Pulau Bawean bersama Yayasan BINAYA mengadakan sosialisasi bertema “Konservasi Babi Kutil” di Desa Pudakit Timur, Bawean, Gresik. Acara ini dihadiri oleh 20 warga setempat yang selama ini menghadapi konflik dengan Babi Kutil (Sus verrucosus), salah satu satwa endemik Pulau Bawean yang kini terancam punah.
Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, dalam acara yang berlangsung pada Rabu (15/1/2025) menjelaskan, kegiatan dimulai dengan pengisian kuesioner untuk mengukur pengetahuan masyarakat tentang Babi Kutil dan upaya mitigasi konflik yang telah dilakukan. Selanjutnya, dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai morfologi, persebaran, status konservasi Babi Kutil, serta solusi-solusi untuk mengurangi konflik antara satwa tersebut dan manusia.
Beberapa solusi yang diajukan antara lain pembentukan hutan penyangga, penerapan pola tanam agroforestri, pembuatan pagar hidup, serta pemasangan alat pengusir berbasis bunyi. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mencegah Babi Kutil masuk ke lahan pertanian tanpa mengancam keberadaan satwa tersebut.
Dalam sesi diskusi, warga mengungkapkan keresahan mereka terkait rencana perlindungan Babi Kutil. Mereka khawatir akan dampaknya terhadap lahan pertanian yang menjadi mata pencaharian utama mereka. Warga juga mendesak pihak terkait untuk segera mengambil tindakan nyata agar populasi Babi Kutil tidak mengganggu aktivitas pertanian, sehingga mereka dapat mengurangi intensitas perburuan terhadap satwa tersebut.
Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk membangun kesadaran dan kolaborasi antara masyarakat dan pihak konservasi guna menjaga kelestarian Babi Kutil sekaligus mendukung keberlanjutan pertanian di Pulau Bawean.(MC Prov Jatim /hjr-jal/eyv)