Jakarta, InfoPublik – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat menjajaki kerja sama dengan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri untuk memperkuat pencegahan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) melalui kegiatan olahraga.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun karakter generasi muda sekaligus mendorong mereka tetap fokus pada pendidikan dan aktivitas positif.
Penjajakan kerja sama itu dilakukan melalui kunjungan rombongan KONI Pusat ke Gedung Presisi, Jakarta. Rombongan dipimpin Staf Ahli Ketua Umum KONI Pusat, Letkol Purn Hamka Handaru, didampingi Kepala Bidang Media dan Humas KONI Pusat Tirto Prima Putra; Wakil Kepala Bidang Ayu Dyah Pasha dan Martinez dos Santos, serta Deborah Imanuella.
Dalam pertemuan tersebut, KONI Pusat memperkenalkan kampanye bertajuk “Mimpi Besar Sekolah Kelar: No Drop Out, Just Level Up”. Kampanye ini mendorong generasi muda menyelesaikan pendidikan sekaligus aktif berolahraga untuk mengembangkan potensi dan membangun karakter.
Hamka Handaru mengatakan, olahraga merupakan tanggung jawab bersama dan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Menurutnya, prestasi olahraga tidak hanya menjadi urusan organisasi olahraga, tetapi juga memerlukan dukungan dan kolaborasi lintas lembaga.
“Kami hadir dari KONI Pusat membawa semangat kolaborasi, prestasi olahraga itu tidak hanya dimiliki KONI tapi semuanya terlibat. Bahu membahu untuk membangun prestasi,” kata Hamka sebagaimana keterangan resminya yang diterima InfoPublik, Jumat (30/10/2026).
Ia menambahkan, upaya tersebut sejalan dengan Asta Cita keempat Presiden Prabowo Subianto mengenai penguatan pembangunan sumber daya manusia, termasuk pembangunan karakter dan peningkatan prestasi bangsa.
KONI Pusat juga mengusung visi “Bersatu Berprestasi” sebagai landasan pengembangan olahraga nasional. Salah satu target jangka panjang yang disampaikan adalah membawa Indonesia masuk lima besar Olimpiade 2044.
Olahraga sebagai Ruang Pencegahan
Kepala Densus 88 Antiteror Polri, Irjen Pol Tubagus Ami Prindani menyambut baik penjajakan kolaborasi tersebut. Dalam sambutan yang dibacakan Kasubdit Kontra Ideologi Kombes Pol M. Dofir, ia menyebut pertemuan itu sebagai langkah positif untuk memperkuat sinergi antarlembaga dan membuka peluang kegiatan nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, olahraga tidak hanya berorientasi pada pencapaian prestasi, tetapi juga mengandung nilai-nilai pembentukan karakter, seperti sportivitas, persahabatan, kepatuhan terhadap aturan, dan sikap saling menghormati.
Nilai-nilai tersebut dinilai penting untuk membentuk generasi muda yang tangguh dan mampu berinteraksi secara positif di tengah masyarakat.
Densus 88 juga memandang pencegahan ekstremisme tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja. Keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, termasuk organisasi olahraga, diperlukan untuk memperluas jangkauan upaya pencegahan.
“Kami berharap dapat membahas berbagai peluang konkret dan terukur, baik kegiatan olahraga bersama, pemanfaatan media dan lain sebagainya,” demikian disampaikan dalam sambutan Kadensus 88.
Kasubdit Kontra Narasi AKBP R. Mufakih menegaskan, penanggulangan terorisme tidak hanya mengandalkan penegakan hukum, tetapi juga membutuhkan langkah pencegahan yang melibatkan lebih banyak pihak.
Ia menceritakan pengalaman seseorang yang terpapar paham ekstremisme dan berusaha memengaruhi adiknya. Namun, sang adik yang berstatus atlet memiliki kegiatan olahraga rutin sehingga tidak mengikuti ajakan tersebut.
Mufakih menekankan pentingnya pendidikan dan penyebaran gagasan yang lebih baik dalam mencegah berkembangnya paham terorisme.
“Teroris bisa dibunuh dengan senjata tapi terorisme dapat dibunuh dengan pendidikan (ide yang lebih baik),” ujarnya.
Kampanye Dorong Pendidikan dan Partisipasi Olahraga
Kepala Bidang Media dan Humas KONI Pusat Tirto Prima Putra menjelaskan, kampanye “Mimpi Besar Sekolah Kelar” dirancang sebagai wadah untuk menghubungkan tujuan olahraga prestasi dengan pembangunan sosial masyarakat.
Melalui program tersebut, KONI Pusat ingin mendorong generasi muda agar tetap mengutamakan pendidikan dan mengisi waktu dengan kegiatan olahraga. Secara teknis, kampanye juga diarahkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat melalui sosialisasi berbagai cabang olahraga oleh KONI di daerah.
Menurut Tirto, kegiatan olahraga yang terarah dapat menjadi salah satu langkah preventif untuk mengurangi risiko keterlibatan generasi muda dalam perilaku negatif, seperti intoleransi, radikalisme, ekstremisme, terorisme, kekerasan seksual, tawuran, dan penyalahgunaan narkotika.
Ia juga menceritakan seorang anak dari narapidana terorisme yang berhasil meraih medali emas pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI/2024 Aceh-Sumatera Utara. Kisah tersebut menunjukkan bahwa latar belakang keluarga tidak harus menentukan pilihan dan masa depan seorang anak.
Melalui olahraga prestasi, atlet memiliki kesempatan mewakili daerah dan negara, sekaligus menunjukkan kebanggaan terhadap Indonesia.
“Olahraga memiliki peran yang inklusif. Kita tidak memandang siapa mereka atau latar belakangnya. Ketika mereka merasa nyaman melalui olahraga, tujuan akhirnya adalah menumbuhkan rasa cinta terhadap Indonesia, dengan Garuda di dada dan bendera Merah Putih sebagai simbol kebanggaan,” terang Tirto.
Penjajakan kerja sama KONI Pusat dan Densus 88 tersebut membuka peluang pemanfaatan olahraga sebagai bagian dari strategi pencegahan berbasis masyarakat. Melalui kegiatan yang terarah, kolaborasi lintas lembaga diharapkan dapat memperluas akses generasi muda terhadap aktivitas positif, memperkuat karakter, serta menjaga keberlanjutan pendidikan dan prestasi olahraga.