Jakarta, InfoPublik – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menyoroti dampak krisis iklim terhadap kehidupan sosial-ekonomi perempuan, terutama di wilayah pesisir dan Indonesia Timur yang menghadapi keterbatasan akses informasi dan teknologi.
Deputi Bidang Kesetaraan Gender KemenPPPA, Amurwani Dwi Lestariningsih, menyampaikan hal tersebut dalam forum Diseminasi dan Diskusi Kertas Kebijakan mengenai ketahanan iklim berbasis gender di Indonesia Timur bersama Monash University, Selasa (27/10/2026).
"Dampak krisis iklim terlihat di sejumlah kampung nelayan di pesisir utara Jawa, seperti Demak, Jepara, dan Rembang, yang terdampak kenaikan permukaan air laut. Kondisi tersebut memicu perubahan mata pencaharian yang berdampak berbeda terhadap laki-laki dan perempuan," ungkapnya.
Perempuan pesisir menghadapi risiko kehilangan pekerjaan tradisional, seperti penjemuran ikan asin dan pertanian pesisir. Mereka juga menghadapi ancaman terhadap ketersediaan air bersih dan sanitasi, serta penurunan pendapatan keluarga. Sementara itu, laki-laki masih dapat melaut lebih jauh untuk mencari penghasilan.
Kerentanan serupa dialami perempuan di wilayah Indonesia Timur, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Maluku, akibat minimnya akses informasi dan teknologi. Situasi ini menambah beban perempuan, termasuk dalam pekerjaan rumah tangga yang tidak dibayar (unpaid care work), juga di tengah kesenjangan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) antara perempuan dan laki-laki.
Untuk merespons persoalan tersebut, KemenPPPA mendorong percepatan pemanfaatan energi terbarukan, seperti energi surya, angin, dan bioenergi, serta penggunaan teknologi tepat guna untuk membantu redistribusi pekerjaan rumah tangga yang tidak dibayar. Upaya tersebut juga didukung program Bappenas yang menyiapkan 1.000 sumber listrik di wilayah Indonesia Timur.
Amurwani mengatakan, redistribusi pekerjaan rumah tangga melalui dukungan teknologi dan keterlibatan laki-laki dapat membantu perempuan beradaptasi dengan krisis iklim sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga.
"Jika upaya redistribusi pekerjaan rumah tangga ini dapat dilakukan melalui bantuan teknologi dan keterlibatan laki-laki, maka perempuan akan mampu bertahan dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya dalam beradaptasi dengan krisis iklim," pungkasnya.