BMKG: Kondisi Relatif Kering masih Berpotensi Terjadi hingga 2 November 2026
Sumber: InfoBMKG
Sumber: InfoBMKG
Jakarta, InfoPublik – Cuaca panas dan kering masih melanda sejumlah wilayah Indonesia pada akhir Oktober 2026. Minimnya tutupan awan dan rendahnya curah hujan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), meskipun hujan lebat hingga ekstrem masih berpotensi terjadi di sejumlah daerah.
Dalam InfoBMKG di Jakarta, Jumat (23/10/2026), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu maksimum mencapai 39,2 derajat Celsius di Lampung dan 39 derajat Celsius di Jawa Barat pada 21 Oktober 2026. Sementara itu, Kalimantan Selatan mencatat suhu maksimum 38,7 derajat Celsius pada 20 Oktober 2026.
Minimnya tutupan awan membuat permukaan bumi menerima lebih banyak panas matahari pada siang hari. Kondisi ini meningkatkan pemanasan dan mempercepat pengeringan vegetasi sehingga risiko karhutla semakin tinggi.
Dalam 10 hari terakhir, titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi paling banyak terpantau di Kalimantan Tengah sebanyak 3.794 titik, Sumatra Selatan 1.595 titik, dan Papua Selatan 1.516 titik. Sebaran asap juga masih terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Hujan Lebat Masih Berpotensi Terjadi
Di tengah kondisi panas dan kering, sejumlah wilayah tetap mengalami hujan lebat hingga ekstrem pada 19–21 Oktober 2026. Curah hujan tertinggi tercatat di Sumatra Utara sebesar 190,6 mm/hari, Sumatra Barat 130,7 mm/hari, Aceh 119 mm/hari, Kalimantan Barat 83 mm/hari, dan Papua Tengah 78 mm/hari.
Kondisi tersebut dipengaruhi aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin dan Mixed Rossby-Gravity (MRG), pertemuan dan perlambatan angin, serta suhu muka laut yang hangat. Faktor-faktor tersebut mendukung pertumbuhan awan hujan, terutama di Sumatra bagian utara dan barat serta sebagian Kalimantan.
BMKG memperkirakan kondisi relatif kering masih berpotensi terjadi pada periode 23 Oktober hingga 2 November 2026 di sebagian Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua Selatan. Kondisi ini seiring pengaruh El Niño sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang cenderung menghambat pertumbuhan awan hujan.
Meski demikian, dinamika atmosfer regional dan lokal masih dapat memicu hujan di sejumlah daerah. Aktivitas MJO diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah perairan dan daratan, termasuk Samudra Hindia barat Aceh dan Kepulauan Nias, perairan sekitar Aceh, Selat Malaka bagian utara dan tengah, perairan Tamiang-Langsa, serta Samudra Pasifik utara Papua.
Selain itu, gelombang Rossby Ekuatorial diprakirakan aktif di Laut Natuna Utara. Sirkulasi siklonik di perairan barat Aceh dan Samudra Pasifik utara Papua juga diprakirakan memengaruhi pola angin regional.
Pertemuan dan perlambatan angin berpotensi terbentuk di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Kondisi atmosfer yang cukup labil di sebagian Sumatra bagian utara hingga tengah, Jawa, Kalimantan, dan Papua turut mendukung pertumbuhan awan hujan.
Kombinasi dinamika tersebut berpotensi memicu hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang.
Prakiraan Cuaca 23–29 Oktober 2026
Pada periode 23–25 Oktober 2026, cuaca di Indonesia umumnya diprakirakan didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jawa Barat, dan Kalimantan Utara.
Potensi angin kencang juga perlu diwaspadai di Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.
Selanjutnya, pada periode 26–29 Oktober 2026, cuaca umumnya masih didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. Potensi hujan lebat hingga sangat lebat diprakirakan terjadi di Riau, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Sementara itu, potensi angin kencang perlu diwaspadai di Aceh, Banten, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Papua Selatan.
Menghadapi kondisi cuaca yang bervariasi, BMKG mengimbau masyarakat dan pemangku kepentingan untuk tetap waspada terhadap dampak musim kemarau. Masyarakat diharapkan menjaga kesehatan, menghemat penggunaan air, serta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah.
Masyarakat juga diimbau untuk terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini resmi BMKG melalui aplikasi Info BMKG, laman bmkg.id, serta media sosial @infobmkg.