Jakarta, InfoPublik – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyoroti kesenjangan antara usia harapan hidup dan usia harapan hidup sehat masyarakat Indonesia yang mencapai sekitar 11 tahun. Kesenjangan tersebut menjadi tantangan dalam meningkatkan kualitas hidup penduduk lanjut usia (lansia), sekaligus mendorong mereka tetap aktif dan produktif.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menyampaikan bahwa usia harapan hidup masyarakat Indonesia telah mencapai sekitar 72,4 tahun, sedangkan usia harapan hidup sehat masih di bawah 63 tahun.
"Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan usia harapan hidup perlu diikuti upaya menjaga kesehatan dan kemandirian masyarakat hingga usia lanjut," katanya dalam Peluncuran Buku "Muda Menata, Tua Berdaya" dan Kick Off Pengembangan Desain Ekonomi Perak Indonesia di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Menurut Imran, persoalan kesehatan lansia juga perlu dilihat dari dampaknya terhadap kehidupan sosial dan ekonomi. Di tingkat global, potensi kontribusi ekonomi kelompok usia lanjut disebut mencapai USD19 triliun dan diproyeksikan meningkat menjadi USD34 triliun.
Potensi tersebut memperkuat pentingnya pendekatan yang tidak hanya berfokus pada penanganan penyakit, tetapi juga mendorong lansia tetap sehat, aktif, dan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat. "Orang saat ini fokus bukan hanya untuk memperpanjang usai tetapi bagaimana di usia lanjut tetap aktif dan produktif," tambahnya.
Kurangnya Aktivitas Fisik dan Masalah Gigi
Berdasarkan hasil pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) terhadap sekitar 12 juta orang, Kemenkes mengidentifikasi kurangnya aktivitas fisik sebagai salah satu masalah kesehatan yang banyak ditemukan pada kelompok lansia.
Kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, termasuk obesitas, osteoporosis, dan gangguan metabolisme. Karena itu, aktivitas fisik yang sesuai dengan kondisi kesehatan dan kemampuan lansia menjadi bagian penting dalam menjaga kebugaran serta kemandirian mereka.
Selain aktivitas fisik, kesehatan gigi dan mulut juga menjadi perhatian. Imran menyebut masalah gigi, seperti gigi berlubang dan kehilangan gigi, dialami lebih dari separuh lansia yang diperiksa. Masalah tersebut tidak hanya memengaruhi kemampuan mengunyah makanan. "Hal ini juga dapat berdampak pada kepercayaan diri dan interaksi sosial. Lansia yang mengalami gangguan kesehatan gigi berisiko mengurangi aktivitas di luar rumah dan menarik diri dari pergaulan," ungkapnya.
Gangguan mengunyah juga dapat memengaruhi pola konsumsi dan kecukupan gizi. Oleh karena itu, pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut perlu menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan lansia secara menyeluruh.
Pentingnya Perhatian bagi Pendamping Lansia
Kemenkes juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental pendamping lansia atau caregiver. Tanggung jawab merawat lansia, terutama mereka yang membutuhkan pendampingan intensif seperti akibat demensia, dapat menimbulkan tekanan emosional dan fisik bagi pengasuh.
Karena itu, kebutuhan pendamping juga perlu diperhatikan melalui dukungan sosial, edukasi perawatan, dan akses terhadap layanan kesehatan yang sesuai.
Pendekatan yang memperhatikan lansia sekaligus pendampingnya diharapkan dapat mendukung perawatan yang berkelanjutan dan meningkatkan kualitas hidup kedua pihak.
"Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam menghadapi penuaan penduduk, sehingga bertambahnya usia tidak hanya diikuti peningkatan harapan hidup, tetapi juga kesehatan, kemandirian, dan kesempatan untuk tetap berkontribusi bagi masyarakat," pungkasnya.