Indonesia Emas 2045 dan Tantangan Pengasuhan Digital
Sejumlah murid SD mengikuti kegiatan belajar mengajar. (Sumber: InfoPublik)
Sejumlah murid SD mengikuti kegiatan belajar mengajar. (Sumber: InfoPublik)
Jakarta, InfoPublik - Di sudut ruang tamu yang hening, sering kali terlihat pemandangan yang kontradiktif, sebuah keluarga duduk bersama, namun masing-masing asyik dengan gawai di tangan. Fenomena ini bukan sekadar tren teknologi, melainkan tantangan besar bagi masa depan bangsa yang tengah menapak menuju visi Indonesia Emas 2045.
Indonesia saat ini berada di titik krusial bonus demografi. Dengan hampir seperempat penduduknya atau sekitar 24,93 persen merupakan generasi muda usia 13 hingga 28 tahun, nasib bangsa ini berada di tangan mereka.
"Ini artinya bahwa hampir seperempat penduduk Indonesia merupakan remaja dan pemuda yang akan menjadi penentu keberhasilan Indonesia Emas 2045," ujar Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN), Isyana Bagoes Oka dalam webinar Strategi Taktis Orang Tua Mendampingi Remaja di Era Digital, Selasa (23/6/2026).
Namun, Isyana mengingatkan bahwa limpahan usia produktif ini tidak serta-merta menjadi berkah instan. Bonus demografi bisa berbalik menjadi bencana jika tidak dikelola dengan tepat, terutama di tengah arus digitalisasi yang bergulir bak bola liar. "Teknologi digital memang menawarkan jendela ilmu tanpa batas. Anak-anak masa kini bisa belajar melalui internet, mengekspresikan diri, bahkan menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mencari saran. Namun, di balik kemudahan itu, terdapat risiko yang mengintai di ruang privat mereka, mulai dari adiksi gim daring, cyber bullying, hingga paparan judi online dan pornografi," ujarnya.
Isyana juga menyoroti perubahan drastis dalam pola pengawasan orang tua dalam era digital saat ini. Jika dulu orang tua cukup mengenal lingkungan pergaulan anak di sekolah atau di sekitar rumah, kini dengan perkembangan teknologi digital, anak dapat berinteraksi dengan ribuan orang melalui ruang digital yang tidak selalu dapat diawasi secara langsung oleh orang tua.
Risiko tersebut kian nyata ketika interaksi di dunia maya justru menjauhkan anak dari percakapan bermakna di rumah. Mengutip pemikiran Jonathan Haidt dalam buku The Anxious Generation, Isyana menyebut bahwa pergeseran dari dunia nyata ke dunia digital yang serba cepat telah memicu peningkatan kecemasan dan kesepian pada remaja.
Kedekatan Emosional
Menghadapi tantangan ini, Kemendukbangga mengusung strategi yang menyentuh akar permasalahan melalui kedekatan emosional. Orang tua kini dituntut tidak hanya menjadi "polisi" digital, tetapi juga menjadi pendamping dan teman curhat yang hangat bagi anak-anaknya. "Kedekatan emosional di rumah merupakan hal utama agar anak mampu bersikap bijak di ruang digital. Ketika hubungan atau kelekatan antara orang tua dan anak kuat, maka pengawasan tidak lagi dilakukan dengan kecurigaan, tetapi melalui komunikasi, kepercayaan, dan pendampingan," jelas Isyana.
Peran ini pun tidak hanya bertumpu pada ibu. Kehadiran sosok ayah melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) menjadi kunci untuk memberikan perlindungan dan kasih sayang yang seimbang. Ayah diharapkan hadir secara utuh, bukan sekadar fisik, melainkan juga dalam setiap percakapan dan bimbingan. "Meski pemerintah telah menyiapkan payung hukum seperti PP Tunas (Tunggu Anak Siap), benteng terkuat tetaplah keluarga. Kembalinya fungsi keluarga sebagai pusat pendidikan, perlindungan, dan cinta kasih adalah investasi terbaik bagi kesehatan mental generasi penerus," ungkapnya.
Isyana juga memberikan pesan mendalam bagi setiap orang tua di era digital ini. "Marilah kita orang tua menjadi orang tua yang benar-benar hadir sebelum anak mencari jawaban dari dunia maya. Mari kita bangun komunikasi yang hangat sebelum muncul konflik," pungkasnya.
Dengan kelekatan yang kuat di dunia nyata, diharapkan generasi muda Indonesia tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga memiliki karakter baja untuk membawa Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.