Jakarta, InfoPublik – Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf mengungkapkan bahwa program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden sejak awal 2025 terus menunjukkan perkembangan positif, baik dari sisi jumlah peserta didik maupun dampak sosial bagi keluarga penerima manfaat.
Saifullah mengingatkan, gagasan Sekolah Rakyat pertama kali disampaikan kepada publik pada 9 Januari 2025 di Istana Bogor. Dalam waktu enam bulan, program tersebut mulai beroperasi pada 14 Juli 2025 di 63 titik lokasi di berbagai daerah. "Setelah itu terus bertambah, pada Agustus dan September jumlahnya meningkat hingga beroperasi di 166 titik,” ujar Mensos di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Ia menjelaskan, pada tahap awal program ini menampung hampir 16 ribu siswa. Meski menghadapi berbagai tantangan dalam tiga bulan pertama, seperti proses adaptasi siswa, tenaga pengajar, hingga pemerintah daerah, pelaksanaan Sekolah Rakyat kini dinilai berjalan semakin baik.
Menurutnya, seluruh pihak mampu melalui masa penyesuaian secara bertahap. Saat ini, para siswa mulai menunjukkan kepercayaan diri dan mampu mengikuti proses belajar mengajar dengan optimal. “Bahkan, sudah ada prestasi yang diraih siswa Sekolah Rakyat di tingkat kabupaten, provinsi, hingga nasional,” kata Saifullah.
Selain capaian akademik, pemerintah juga terus memperkuat infrastruktur program melalui pembangunan gedung permanen. Selama ini, sebagian besar kegiatan belajar mengajar masih memanfaatkan fasilitas sementara.
Ke depan, sejumlah gedung permanen dengan kapasitas hingga 1.000 siswa untuk jenjang SD, SMP, dan SMA tengah disiapkan dan ditargetkan rampung pada Juli mendatang. "Jika pembangunan selesai sesuai rencana, tahun ini kita bisa menampung sekitar 35 ribu siswa tambahan di berbagai kabupaten dan kota," jelasnya.
Dengan penambahan tersebut, total siswa Sekolah Rakyat pada 2026 diproyeksikan mencapai lebih dari 45 ribu orang. Jumlah ini akan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya.
Pemerintah menargetkan jumlah peserta didik mencapai 60 ribu pada 2027, menembus 100 ribu siswa secara kumulatif, hingga lebih dari 200 ribu pada 2028. Bahkan, dalam jangka panjang, jumlah tersebut diproyeksikan melampaui 400 ribu siswa.
Saifullah menegaskan, program Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada pendidikan anak, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pengentasan kemiskinan yang menyasar keluarga secara menyeluruh.
Pemerintah, lanjutnya, turut mengintervensi orang tua siswa melalui berbagai program strategis agar mampu mandiri secara ekonomi dan tidak lagi bergantung pada bantuan sosial. "Dari hasil pemantauan kami, para orang tua merasakan perubahan positif pada anak-anaknya selama sembilan bulan terakhir. Mereka juga menjadi lebih optimistis dan semangat,” ungkapnya.
Ia berharap, ke depan para lulusan Sekolah Rakyat tidak hanya berhasil menyelesaikan pendidikan, tetapi juga berasal dari keluarga yang telah berdaya dan mandiri.