Jakarta, InfoPublik – Pemerintah menegaskan bahwa percepatan pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen merupakan prasyarat penting bagi Indonesia untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah dan mencapai visi Indonesia Emas 2045.
Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Budi Setiyono, menyampaikan bahwa peningkatan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Perempuan adalah salah satu kunci utama untuk mewujudkan target tersebut.
Dalam workshop bersama membahas bonus demografi dan generasi emas 2045, Budi menjelaskan bahwa Presiden RI berulang kali menekankan pentingnya mengejar pertumbuhan ekonomi 8 persen sebagai langkah lompatan (leapfrogging) agar Indonesia dapat sejajar dengan negara-negara maju di Asia seperti Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Taiwan.
Menurut dia, pertumbuhan yang stagnan pada kisaran 4–6 persen tidak cukup untuk membawa Indonesia masuk kategori negara maju pada 2045. “Kalau kita bertumbuh linier seperti sekarang, bukan tidak mungkin 2045 kita justru tersalip oleh Vietnam,” ujarnya mengingatkan.
Budi Setiyono juga menjelaskan bahwa Indonesia tengah berada pada fase puncak bonus demografi, dengan 70 persen penduduk berada pada usia produktif. Ia menggambarkan situasi ini seperti diskon besar di supermarket, dan kalau telat sedikit, sudah habis.
Lanjut dia, jika kelompok usia produktif ini benar-benar masuk ke dunia kerja, negara dapat memperoleh akumulasi modal (capital accumulation) yang sangat penting untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, hingga kawasan industri. Namun, jika sebagian besar kelompok ini tidak bekerja, pendapatan negara akan terkuras untuk konsumsi dan subsidi. “Alih-alih capital accumulation, justru yang akan naik adalah utang luar negeri,” ujarnya.
Selain itu, Budi menegaskan bahwa keberhasilan kapitalisasi bonus demografi sangat ditentukan oleh pemanfaatan potensi tenaga kerja perempuan. Saat ini, TPAK perempuan baru mencapai sekitar 54 persen, jauh di bawah ideal dan masih tertinggal dibanding sebagian negara ASEAN.
Dengan gaya komunikatif, ia menyampaikan bahwa perempuan memiliki stabilitas kerja yang tinggi.
“Kalau laki-laki itu seperti WiFi kamar kos, kadang kencang, kadang hilang. Ibu-ibu itu lain, dikasih sepuluh tugas pun bisa jalan semua,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa perempuan tidak boleh terus-menerus berada di belakang layar atau terbatas pada peran domestik. “Kalau kita ingin mengejar pertumbuhan ekonomi 8 persen, tidak mungkin hanya satu mesin bekerja. Dua-duanya laki-laki dan perempuan harus bergerak bersama," ungkapnya.
TPAK Perempuan sebagai Indikator Utama Pembangunan Kependudukan
Lebih lanjut, Budi Setiyono menyampaikan bahwa dalam Indeks Pembangunan Berwawasan Kependudukan (IPBK), peningkatan TPAK perempuan menjadi salah satu indikator kunci. Jika tingkat partisipasi perempuan dapat mendekati laki-laki bahkan menembus 80 persen, maka dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional akan sangat signifikan.
Terkait itu, Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN Budi Setiyono mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menempatkan perempuan sebagai pilar utama pembangunan ekonomi nasional. “Jika kita gagal mengapitalisasi bonus demografi, kita berisiko tetap terperangkap dalam middle income trap. Waktu bonus ini tidak panjang, dan kita harus menggunakannya sebaik mungkin,” tegasnya.