Jakarta, InfoPublik — Lintas kementerian, dunia pendidikan, organisasi keilmuan, dan filantropi mengukuhkan langkah bersama untuk memperkuat pengasuhan anak usia dini melalui Program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya), Selasa (18/11/2025). Kolaborasi ini menandai tonggak penting dalam penguatan ekosistem pengasuhan yang aman, sehat, dan berkualitas sebagai fondasi Generasi Emas Indonesia 2045.
Program Tamasya, yang merupakan program prioritas pembangunan keluarga dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, dirancang untuk memastikan anak mendapatkan pengasuhan yang terjangkau, layanan pemantauan tumbuh kembang berkelanjutan, serta peningkatan kapasitas pengasuh.
Dalam pernyataan komitmen bersama, pemerintah menegaskan bahwa Tamasya bukan hanya menyediakan ruang aman bagi anak selama orang tua bekerja, tetapi juga menjadi pusat layanan pengasuhan komprehensif yang mengutamakan pemantauan tumbuh kembang secara terarah.
Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes RI, Sunarto, menyatakan komitmen penuh Kementerian Kesehatan untuk memperkuat layanan pengasuhan anak. “Kementerian Kesehatan berkomitmen meningkatkan kompetensi pengasuh, melaksanakan pendampingan perkembangan anak, memberikan umpan balik pengasuhan melalui rapor perkembangan, serta memfasilitasi akses layanan rujukan. Komitmen ini kami sampaikan dengan semangat kolaborasi mendukung fondasi generasi emas Indonesia 2045,” ujarnya.
Dukungan serupa datang dari Plt. Sekretaris Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi, Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek, Setiawan, yang menegaskan peran pendidikan tinggi dalam memperkuat kapasitas pengasuh dan lembaga pengasuhan.
Kemendiktisaintek berkomitmen untuk: Meningkatkan kompetensi pengasuh melalui pelatihan dan bimtek berkelanjutan; Melaksanakan pendampingan dan pemantauan pertumbuhan anak secara rutin di TPA; Memperkuat praktik pengasuhan melalui rapor tumbuh kembang dan kelas pengasuhan bagi orang tua; dan Memfasilitasi akses rujukan kesehatan bersama tenaga profesional. "Komitmen ini kami sampaikan sebagai dukungan terhadap lahirnya Generasi Emas Indonesia,” jelasnya.
Sementara Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Arief Satria, menegaskan bahwa penguatan pengasuhan anak usia dini merupakan langkah strategis untuk membangun karakter generasi masa depan. “Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi kuat secara fisik, karakter, soft skills, dan mindset. Program Tamasya adalah ikhtiar strategis untuk membangun fondasi tersebut. ICMI siap berkolaborasi dalam edukasi masyarakat, advokasi program, serta penguatan ekosistem pengasuhan berbasis komunitas," ungkapnya.
Dukungan Filantropi
Selanjutnya, Sekretaris Badan Pengurus Perhimpunan Filantropi Indonesia, Irvan Nugraha, menyampaikan bahwa sektor filantropi memiliki kontribusi besar dalam memperluas akses dan kualitas layanan pengasuhan di daerah.
Filantropi Indonesia yang beranggotakan lebih dari 250 lembaga, mulai dari yayasan keluarga hingga lembaga zakat berkomitmen: Mendukung penyediaan sarana dan fasilitas pendukung Tamasya; Menggelar edukasi publik, riset, dan kampanye pengasuhan anak; dan Memperkuat jejaring kolaborasi melalui Filantropi Festival dan forum teknologi sosial. “Kami berharap kolaborasi ini memberi dampak besar dan dapat direplikasi di berbagai daerah,” tutupnya.
Kolaborasi lintas sektor ini menjadi langkah strategis dalam memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan pengasuhan terbaik sejak usia dini. Dengan penguatan kapasitas pengasuh, sarana pendukung, dan layanan pemantauan perkembangan, Program Tamasya diharapkan menjadi fondasi kuat menuju terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045.