Jakarta, InfoPublik — Pameran pertahanan terbesar di Indonesia, Indo Defence 2024, resmi dibuka oleh Presiden Prabowo Subianto dan mencatatkan rekor baru. Acara dua tahunan yang digelar oleh Kementerian Pertahanan Republik Indonesia ini diikuti oleh 1.180 partisipan dari 55 negara, naik signifikan dari penyelenggaraan sebelumnya.
Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kemhan, Brigjen TNI Frega Wenas Inkiriwang,, menegaskan bahwa Indo Defence bukan sekadar ajang pamer alutsista, melainkan platform diplomasi pertahanan strategis.
“Indo Defence menunjukkan pengakuan global terhadap kemampuan pertahanan Indonesia. Tahun ini ada 76 delegasi dari 42 negara, termasuk 9 menteri pertahanan dan 10 panglima angkatan bersenjata,” ujar Brigjen TNI Frega, Kamis (12/6/2025).
Selain memperlihatkan produk unggulan dalam negeri dari BUMN dan kadet Universitas Pertahanan, pameran ini juga memperkuat kerja sama bilateral dan mendorong pertumbuhan industri pertahanan nasional.
Salah satu poin penting dari penyelenggaraan Indo Defence adalah efek domino terhadap ekonomi nasional. Tercatat 27 kontrak ditandatangani antara Kemhan RI dengan BUMN dan BUMS nasional.
“Kontrak ini berarti permintaan terhadap produksi meningkat, dan UMKM ikut bergerak karena terlibat dalam rantai pasok,” kata Brigjen Frega.
Event ini juga memberikan efek besar pada sektor hospitality dan logistik, dengan kehadiran lebih dari 1.100 delegasi asing yang membutuhkan akomodasi, transportasi, dan konsumsi lokal. Tak kalah penting, pameran dibuka untuk masyarakat umum pada 14 Juni, memberi ruang edukasi dan eksplorasi terhadap teknologi pertahanan yang jarang diakses publik.
Terkait penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Turki untuk pengembangan jet tempur generasi kelima KAAN, Brigjen Frega menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada kontrak pembelian resmi, meskipun media asing menyebut angka 48 unit.
“Yang ditandatangani masih MoU. Proses negosiasi kontrak akan mencakup alih teknologi, jumlah unit, dan skema produksi bersama,” jelasnya.
Pernyataan ini menepis spekulasi bahwa angka 48 mengacu pada jumlah pasti pembelian atau dikaitkan langsung dengan proyek KFX sebelumnya yang sempat menyebut angka serupa.
“Intinya, kita tak hanya membeli, tapi membangun kapasitas teknologi pertahanan dalam negeri,” tutupnya.