Muara Enim, InfoPublik – Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Gumay, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim. Pemadaman dilakukan melalui pengerahan personel darat dan operasi udara menggunakan helikopter water bombing untuk menjangkau titik api, termasuk bara yang berada di lapisan gambut bawah permukaan.
Gubernur Sumatra Selatan Herman Deru meninjau langsung lokasi kebakaran pada Rabu (21/10/2026). Dalam peninjauan tersebut, ia melakukan pemantauan udara bersama Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Muara Enim Sumarni, Dandim 0404 Muara Enim Sahid Winagiri, dan Wakapolres Muara Enim Kompol Toni Arman. Peninjauan itu dilakukan untuk memastikan kesiapsiagaan satuan tugas darat dan udara dalam mengendalikan kebakaran serta mencegah api meluas ke wilayah sekitarnya.
Herman Deru mengatakan, penanganan di lokasi terus dioptimalkan dengan mengerahkan personel darat dan pemadaman dari udara. Berdasarkan laporan dan hasil pemantauan bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kebakaran di Desa Gumay berkaitan dengan bara pada lapisan tanah gambut di bawah permukaan.
Kondisi tersebut membuat pemadaman memerlukan penanganan khusus karena bara dapat bertahan di dalam tanah meskipun api tidak selalu terlihat di permukaan. Karena itu, Gubernur mendorong satgas udara mengoptimalkan penyiraman menggunakan helikopter water bombing untuk membantu memadamkan titik api dan bara di lahan gambut.
Selain pemadaman, Pemerintah Kabupaten Muara Enim memperkuat upaya pencegahan agar kebakaran tidak terus berulang. Salah satunya melalui penyediaan lima unit ekskavator siap pakai beserta operator tanpa biaya bagi masyarakat melalui program visi Membara.
Plt. Bupati Muara Enim Sumarni menyampaikan, fasilitas tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat membuka dan mengolah lahan tanpa harus menggunakan metode pembakaran.
Menurut pemerintah daerah, pemanfaatan ekskavator itu dapat memangkas biaya pembukaan lahan masyarakat sekitar 60–65 persen per hektare. Fasilitas tersebut juga telah dimanfaatkan untuk mengolah puluhan hektare lahan dengan cara yang lebih aman.
Penyediaan alat berat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan masyarakat pada pembakaran lahan, yang berisiko memicu kebakaran dan menyulitkan pengendalian ketika api menjalar ke kawasan gambut.
Pemerintah daerah pun mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Partisipasi warga dalam mencegah munculnya titik api dinilai penting untuk melengkapi upaya pemadaman yang dilakukan petugas.
Penanganan karhutla di Muara Enim menunjukkan bahwa pengendalian kebakaran membutuhkan dua pendekatan yang berjalan beriringan: pemadaman cepat ketika titik api muncul dan pencegahan agar kebakaran tidak terulang.
Di lahan gambut, bara yang tersimpan di bawah permukaan dapat menyulitkan pemadaman dan berpotensi memicu kebakaran kembali. Karena itu, pengerahan satgas darat dan udara perlu didukung pemantauan berkelanjutan serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga lahan.
Melalui operasi pemadaman dan penyediaan sarana pembukaan lahan tanpa bakar, pemerintah berharap risiko karhutla dapat ditekan, lingkungan tetap terjaga, dan masyarakat memiliki pilihan yang lebih aman untuk mengelola lahan produktif.
[diskominfosp-me]