Jakarta, InfoPublik - Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) melalui unit Kepegawaian Umum dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja merombak standar kesiapsiagaan darurat aparaturnya.
Otoritas kearsipan ini menggandeng Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Jakarta untuk mengeksekusi simulasi mitigasi risiko bencana alam dan kedaruratan medis, Jakarta, seperti dikutip InfoPublik (21/10/2026).
Pelatihan intensif ini difokuskan pada penguasaan teknik Medical First Responder (MFR) dan Bantuan Hidup Dasar (BHD).
Kepala Biro Kepegawaian dan Umum ANRI, Poppy Alia, menegaskan, aparatur negara tidak boleh gagap saat menghadapi insiden kolapsnya rekan kerja akibat kegagalan fungsi organ vital sebelum ambulans tiba di lokasi.
"Kegiatan ini penting sebagai langkah nyata meningkatkan pengetahuan para pegawai dalam memberikan bantuan medis dan pertolongan pertama yang tepat," tegas Poppy di hadapan para peserta pelatihan.
Para aparatur negara digembleng langsung oleh instruktur Basarnas untuk mendeteksi tanda-tanda henti napas secara cepat dengan melihat pergerakan rongga dada.
Simulasi teknis mewajibkan setiap peserta mempraktikkan Resusitasi Jantung Paru (RJP) secara akurat guna mempertahankan pasokan darah ke otak yang terancam rusak permanen hanya dalam waktu empat menit.
Peserta juga dituntut menguasai pengoperasian alat kejut jantung portabel atau Automated External Defibrillator (AED).
Lebih dari sekadar memompa dada, materi simulasi meluas hingga teknik penanganan penyumbatan jalan napas tersedak benda asing (Heimlich maneuver).
Tim penyelamat turut membeberkan prosedur evakuasi darurat yang aman untuk memindahkan korban luka berat tanpa memperparah trauma fisik pada tulang belakang.
Pengetahuan medis ini diposisikan sangat krusial mengingat henti jantung dapat menyerang siapa saja secara mendadak tanpa riwayat penyakit berat sebelumnya.
Sinkronisasi pemahaman antara pegawai kearsipan dan tim penyelamat ini ditargetkan sanggup menekan angka kematian mendadak dan membentuk fondasi budaya kerja yang tanggap akan ancaman fatalitas klinis di wilayah ibu kota. (Humas ANRI)