Wamena, InfoPublik — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Pegunungan mengeluarkan peringatan kepada masyarakat setelah indeks kualitas udara di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, tercatat mencapai 157 atau masuk kategori tidak sehat. Kondisi tersebut dikaitkan dengan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dilaporkan bergerak dari wilayah Papua Selatan.
Peringatan tersebut disampaikan melalui Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik (Diskominfosantik) Provinsi Papua Pegunungan berdasarkan data pemantauan kualitas udara IQAir pada Jumat (9/10/2026).
Data tersebut menunjukkan konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 63,9 mikrogram per meter kubik (µg/m³), dengan indeks kualitas udara (Air Quality Index/AQI) sebesar 157.
“Mari kita lebih waspada terhadap kondisi kualitas udara di Kota Wamena saat ini,” demikian imbauan Diskominfosantik Papua Pegunungan dalam keterangan resminya.
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Diskominfosantik Papua Pegunungan, Lepianus Z. Kogoya, mengatakan penurunan kualitas udara perlu mendapat perhatian karena berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan.
Kelompok tersebut meliputi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan.
Lepianus mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker N95 atau KN95 apabila harus bepergian.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan maupun aktivitas lain yang dapat memperburuk pencemaran udara.
“Mengurangi aktivitas di luar rumah. Menggunakan masker N95/KN95 jika harus keluar. Kondisi udara mungkin tidak selalu terlihat berbahaya, tetapi partikel halus PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam paru-paru,” ujar Lepianus.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wamena menginformasikan bahwa kabut asap yang menyelimuti wilayah Wamena diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan di Papua Selatan.
Berdasarkan analisis pergerakan angin yang disampaikan BMKG, asap dari wilayah Papua Selatan bergerak dominan ke arah barat laut dan berpotensi menjangkau Papua Pegunungan, Papua Tengah, hingga Papua Barat.
Pergerakan asap tersebut dipengaruhi oleh kondisi angin dan topografi wilayah Papua, termasuk kawasan pegunungan yang dilalui sebaran kabut asap.
BMKG juga melaporkan bahwa kabut asap telah menjangkau kawasan Taman Nasional Lorentz dan menyebabkan penurunan jarak pandang.
Kondisi berkurangnya jarak pandang tersebut berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan lokal, khususnya pada jalur penerbangan yang melintasi wilayah pegunungan dan dataran tinggi Papua.
Selain itu, titik panas (hotspot) dilaporkan terdeteksi di sejumlah wilayah Papua Selatan, terutama Kabupaten Merauke, Boven Digoel, dan Asmat.
Aktivitas pembukaan lahan disebut sebagai salah satu faktor yang berkaitan dengan kemunculan titik panas di wilayah tersebut.
Pemprov Papua Pegunungan mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap, menjaga kesehatan saluran pernapasan, serta membatasi aktivitas luar ruangan selama kualitas udara berada pada tingkat yang berisiko bagi kesehatan.