Jakarta, InfoPublik — Ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil masih menjadi tantangan bagi ketahanan energi nasional. Di tengah kebutuhan mengurangi impor bahan bakar dan menekan emisi karbon, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi energi bersih melalui riset reaktor nuklir dan pemanfaatan biomassa menjadi bahan bakar alternatif.
Dua jalur riset tersebut menawarkan peluang berbeda untuk memperkuat pasokan energi nasional. Teknologi nuklir berpotensi menyediakan energi rendah karbon dengan pasokan stabil, sedangkan biomassa membuka peluang mengolah sumber daya domestik, termasuk limbah kelapa sawit, menjadi bioetanol dan produk kimia bernilai tambah.
Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko, mengatakan penguasaan teknologi industri dan energi menjadi salah satu fondasi penting untuk mendukung target Indonesia menjadi negara maju pada 2045.
“BRIN mengembangkan teknologi energi bersih, transisi energi yang akan disupport dengan backbone dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Selain itu dikembangkan pula teknologi energi terbarukan biofuel,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Selasa (3/11/2026).
Pengembangan kedua teknologi itu juga mencerminkan kebutuhan diversifikasi energi, yakni memperluas sumber pasokan agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada bahan bakar fosil sekaligus memperkuat kemampuan industri dalam negeri.
Kepala Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir BRIN, Topan Setiadipura, menjelaskan bahwa teknologi nuklir memiliki karakteristik berupa densitas energi tinggi dan emisi karbon sepanjang siklus hidup yang relatif rendah dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil.
“Nuklir memiliki jejak karbon yang sangat rendah dan densitas energi yang tinggi. Satu pelet bahan bakar nuklir seukuran buku jari mampu menghasilkan energi setara dengan satu ton batu bara secara efisien dan ekonomis,” kata Topan.
Menurut dia, Indonesia perlu memperkuat penguasaan teknologi tersebut dengan memperhatikan aspek keselamatan, pengelolaan risiko, serta pengalaman negara-negara yang telah mengoperasikan PLTN.
BRIN telah melakukan riset teknologi reaktor nuklir sejak 1996. Salah satu teknologi yang dikembangkan ialah High Temperature Gas Cooled Reactor (HTGR), yaitu reaktor nuklir berpendingin gas bersuhu tinggi.
Desain yang dikembangkan sejak 2017 itu dinamai PeLUIt, singkatan dari Pembangkit Listrik dan Uap panas. Teknologi ini dirancang menghasilkan listrik sekaligus uap panas yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri.
“Desain yang tengah dikembangkan mulai dari 2017 hingga sekarang, kita namakan PeLUIt, yaitu Pembangkit Listrik dan Uap panas. Jadi output-nya ada listrik dan uap panas. Uap panasnya bisa dipakai untuk industri,” ujar Topan.
Pemanfaatan panas untuk kebutuhan industri menjadi salah satu potensi penting teknologi tersebut. Dengan pasokan energi yang sesuai kebutuhan, sektor industri dapat memperoleh sumber listrik dan panas proses tanpa sepenuhnya bergantung pada bahan bakar fosil.
Topan menambahkan, perkembangan teknologi reaktor juga memungkinkan pengembangan berbagai kapasitas, termasuk reaktor berukuran kecil. Namun, penerapannya tetap memerlukan kajian kelayakan teknis dan ekonomi, perizinan, serta pemenuhan standar keselamatan nuklir.
Ia juga menyinggung potensi pemanfaatan reaktor nuklir untuk sistem propulsi kapal. Meski demikian, penerapan teknologi tersebut pada kapal, termasuk kapal militer, membutuhkan kajian dan persyaratan keselamatan serta regulasi khusus.
Selain nuklir, biomassa menjadi sumber energi alternatif yang dinilai menjanjikan karena Indonesia memiliki sumber daya hayati yang melimpah. Limbah pertanian dan perkebunan berpotensi diolah menjadi bahan bakar maupun bahan baku industri kimia, sehingga memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Kepala Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Roni Maryana, menjelaskan bahwa salah satu pendekatan yang dikembangkan ialah biorefinery, yaitu pengolahan biomassa melalui serangkaian proses untuk menghasilkan berbagai produk, seperti bioetanol, selulosa, dan bahan kimia lainnya.
“Bahan baku untuk menghasilkan energi dan produk kimia selama ini umumnya berasal dari bahan bakar fosil yang tidak terbarukan. Sebagai alternatif, Indonesia memiliki potensi biomassa lignoselulosa yang sangat besar untuk dimanfaatkan,” ujar Roni.
Menurut dia, pengembangan bahan bakar alternatif semakin relevan karena kebutuhan energi transportasi masih ditopang bahan bakar fosil. Dalam paparannya, ia menyebut Indonesia pada 2025 masih mengimpor sekitar 60 persen kebutuhan bensin. Sementara itu, pengembangan biodiesel telah mencapai tahap B50 dan terus diarahkan menuju B60.
Potensi biomassa juga berasal dari industri kelapa sawit. Dengan luas perkebunan sawit sekitar 16 juta hektare dan produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sekitar 40 juta ton sebagaimana dipaparkan Roni, Indonesia memiliki peluang memanfaatkan produk samping perkebunan untuk menghasilkan bahan bakar alternatif.
Ia memperkirakan, pengolahan sekitar 50 juta ton tandan kosong kelapa sawit (TKKS) berpotensi menghasilkan sekitar 1,6 juta ton bioetanol per tahun. Angka tersebut merupakan estimasi potensi yang perlu ditopang ketersediaan bahan baku, efisiensi proses konversi, dan kelayakan ekonomi.
Selain TKKS, batang kelapa sawit dari kegiatan peremajaan perkebunan juga berpotensi menjadi bahan baku. Roni memperkirakan pemanfaatan cairan hasil pemerasan batang sawit dari kegiatan peremajaan sekitar 0,5 persen dari total luas perkebunan dapat menghasilkan sekitar 227.000 ton bioetanol per tahun.
Potensi tersebut membuka peluang untuk meningkatkan nilai tambah limbah perkebunan sekaligus memperkuat rantai pasok bahan bakar domestik. Namun, pengembangan bioetanol generasi kedua masih menghadapi tantangan, terutama pada proses praperlakuan biomassa, biaya produksi, dan ketergantungan terhadap enzim impor.
Pada tahap praperlakuan, biomassa perlu diproses agar komponen selulosa dan hemiselulosa dapat dikonversi menjadi gula untuk difermentasi menjadi etanol. Pemisahan komponen tersebut dari lignin menjadi salah satu faktor yang memengaruhi efisiensi proses dan biaya produksi.
“Di fasilitas percontohan (pilot plant), pengolahan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) diawali dengan proses pengeringan dan penggilingan. Tahapan tersebut menghasilkan bahan baku yang siap diumpankan ke proses pengolahan selanjutnya,” jelas Roni.
BRIN telah memiliki fasilitas percontohan bioetanol generasi kedua seluas 70 meter persegi. Proses produksinya mencakup praperlakuan, sakarifikasi atau pemecahan komponen karbohidrat menjadi gula, fermentasi, distilasi, dan dehidrasi untuk menghasilkan bioetanol.
BRIN juga telah menjalin kerja sama riset dengan Astra Agro Lestari dan Toyota Astra Motor untuk mendorong pengembangan teknologi tersebut. Hasil pengembangan bioetanol itu pernah diperkenalkan dalam pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2023.
Pengembangan energi bersih tidak hanya berkaitan dengan pasokan listrik dan bahan bakar, tetapi juga menyangkut ketahanan ekonomi dan keamanan nasional. Infrastruktur energi yang semakin terhubung dengan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) membutuhkan perlindungan agar operasionalnya tetap andal.
Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan Universitas Pertahanan, Mayjen TNI Fitry Taufiq Sahary, mengatakan ketahanan energi perlu dibangun melalui pendekatan yang mencakup diversifikasi sumber energi, hilirisasi potensi domestik, penguatan sumber daya manusia, dan kerja sama internasional.
“Penguatan ketahanan nasional memerlukan pendekatan multidimensional yang mencakup hilirisasi potensi bioetanol domestik dan diversifikasi sumber energi. Upaya tersebut juga perlu didukung penguatan sumber daya manusia, pemanfaatan kerja sama internasional, serta diplomasi internasional,” ujarnya.
Fitry menambahkan, pemanfaatan teknologi digital dalam sektor energi harus disertai penguatan keamanan infrastruktur informasi vital. Sistem digital yang mendukung pembangkit, distribusi, dan pengelolaan energi perlu dilindungi dari gangguan maupun serangan siber yang dapat mengancam keberlangsungan layanan.
“Riset dan inovasi teknologi energi bersih perlu berjalan beriringan dengan penguatan keamanan infrastruktur informasi vital. Kedua aspek tersebut menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan nasional,” katanya.
Pengembangan reaktor nuklir dan bioetanol menunjukkan dua peluang diversifikasi energi yang dapat digarap melalui riset nasional. Tantangan berikutnya ialah memastikan teknologi tersebut memenuhi standar keselamatan, kompetitif secara ekonomi, dan siap diterapkan dalam skala yang lebih luas agar potensi riset dapat diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi ketahanan energi Indonesia.