Jakarta, Infopublik – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) berpotensi meningkatkan margin keuntungan nelayan hingga 35 persen sekaligus mendorong transformasi kawasan pesisir. Namun, manfaat tersebut hanya dapat dicapai jika pengembangannya berbasis riset dan disesuaikan dengan karakteristik sosial, ekonomi, serta lingkungan di setiap wilayah.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkuler BRIN, Andrian Ramadhan, mengatakan pendekatan berbasis bukti (evidence-based policy) menjadi kunci agar pembangunan KNMP benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat pesisir dan menghasilkan dampak yang berkelanjutan.
"Target awalnya sebanyak 1.100 lokasi strategis yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, ditargetkan tuntas pada 2028 melalui integrasi lintas sektoral. Transformasi berbasis data atau evidence-based policy menjamin setiap intervensi tepat sasaran, terukur, dan berkelanjutan secara jangka panjang," ujar Andrian dalam webinar yang diselenggarakan Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kamis (30/7/2026).
Menurut Andrian, KNMP dirancang sebagai ekosistem pembangunan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir untuk mengatasi berbagai persoalan yang selama ini membelit masyarakat pesisir, seperti kemiskinan, rendahnya produktivitas, degradasi lingkungan, hingga keterbatasan infrastruktur dasar.
Melalui pendekatan tersebut, program ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas nelayan, memperbaiki efisiensi rantai pasok hasil perikanan, sekaligus menciptakan pusat-pusat pengolahan yang membuka peluang kerja baru, terutama bagi pemuda dan perempuan di kawasan pesisir.
"Pembangunan KNMP dirancang terintegrasi dari hulu ke hilir untuk mentransformasi ruang hidup dan sosial sehingga dapat meningkatkan produktivitas, mendorong kemandirian ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat," katanya.
Andrian menegaskan, pembangunan kampung nelayan tidak cukup hanya menghadirkan infrastruktur modern. Keberhasilannya sangat bergantung pada rekayasa sosial (social engineering) dan pemilihan tema pengembangan yang sesuai dengan kondisi setiap daerah.
Menurutnya, setiap kampung nelayan memiliki tantangan yang berbeda, baik dari sisi sosial, ekonomi, budaya, maupun infrastruktur. Karena itu, riset diperlukan untuk menentukan intervensi yang paling efektif.
"Social engineering atau rekayasa sosial maka pertanyaan mendasarnya perubahan sosial apa yang diharapkan oleh kita semua. Kemudian infrastruktur modern, sebetulnya ada gap infrastruktur apa dan teknologi apa yang ingin dikejar melihat dengan kondisi yang ada saat ini. Sedangkan pendekatan tematik, bagaimana cara memilih tematik yang sesuai untuk setiap KNMP," jelasnya.
Ia menambahkan, riset multidisiplin menjadi fondasi agar setiap kebijakan dan teknologi yang diterapkan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, bukan sekadar menghadirkan inovasi yang sulit diterapkan di lapangan.
Penguatan Kelembagaan Ekonomi
Selain pembangunan fisik, BRIN juga menyoroti pentingnya penguatan kelembagaan ekonomi untuk mengatasi persoalan klasik yang dihadapi nelayan, seperti kemiskinan struktural, ketergantungan pada tengkulak, rendahnya pendapatan, serta terbatasnya akses pembiayaan dan pemasaran hasil tangkapan.
Untuk itu, BRIN mendorong penguatan koperasi dan skema pembiayaan yang lebih inklusif sehingga posisi tawar nelayan meningkat tanpa mengesampingkan peran pelaku usaha lokal yang telah lebih dulu berkembang. "Dengan kehadiran institusi baru seperti KNMP diharapkan bukan dianggap sebagai ancaman bagi para pelaku pasar yang ada, tapi sebagai mitra. Misalnya membuka pasar-pasar baru yang selama ini gagal mereka tembus," ujar Andrian.
Ia menekankan, pembangunan KNMP harus melibatkan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, praktisi, dan masyarakat setempat agar model yang dibangun benar-benar berkelanjutan dan dapat direplikasi di berbagai wilayah pesisir Indonesia. "Kunci rekayasa sosial adalah riset sosial, bukan hanya riset yang dipaksakan dengan teknologi semata, tetapi tidak sesuai dengan kebutuhan mereka. Jika kita mampu menciptakan beberapa model yang berhasil, barulah model tersebut dapat diperluas ke wilayah lain," pungkasnya.
Program Kampung Nelayan Merah Putih menjadi salah satu strategi pemerintah untuk memperkuat ekonomi biru melalui modernisasi kawasan pesisir. Dengan dukungan riset dan inovasi, program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan nelayan, tetapi juga menciptakan ekosistem perikanan yang lebih produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.