Bali, InfoPublik – Literasi keuangan menjadi salah satu kompetensi penting yang perlu dimiliki anak sejak usia dini sebagai bekal menghadapi perkembangan ekonomi digital sekaligus meningkatnya ancaman penipuan berbasis teknologi.
Hal tersebut disampaikan praktisi pasar modal sekaligus pendiri PintarSaham.id, Prof. Anak Agung Ngurah Mustakawarman, dalam Forum Sahabat TUNAS bertajuk "Guru Berdaya, Generasi Unggul dan Tangguh Digital sebagai Investasi Masa Depan" di Bali, Kamis (2/7/2026).
Menurut Prof. Ngurah, perubahan pola transaksi masyarakat dari uang tunai menuju pembayaran digital, seperti QRIS dan dompet digital (e-wallet), memberikan kemudahan sekaligus menghadirkan tantangan baru dalam pengelolaan keuangan.
Ia menjelaskan penggunaan uang digital cenderung mengurangi kesadaran seseorang ketika mengeluarkan uang karena tidak lagi melihat uang secara fisik. Kondisi tersebut membuat masyarakat, termasuk anak-anak dan remaja, lebih mudah melakukan pembelian secara impulsif.
"Semakin sering menggunakan uang digital, seseorang berpotensi menjadi lebih boros karena tidak lagi merasakan secara langsung proses mengeluarkan uang," ujarnya.
Selain perubahan perilaku konsumsi, Prof. Ngurah mengingatkan semakin beragamnya modus kejahatan digital yang menyasar anak-anak dan remaja.
Ia mengidentifikasi sedikitnya tiga pola penipuan yang saat ini paling sering dimanfaatkan pelaku kejahatan siber.
Pertama, phishing melalui gim daring, yakni pelaku mengirim tautan palsu dengan dalih mengajak bermain bersama atau memberikan hadiah sehingga korban tanpa sadar menyerahkan data pribadi maupun akun digital.
Kedua, penipuan melalui media sosial, yaitu modus pengiriman pesan langsung (direct message) yang menawarkan hadiah, undian, atau promosi palsu untuk memperoleh informasi pribadi maupun data keuangan korban.
Ketiga, jebakan pembelian dalam aplikasi (in-app purchase), yakni anak melakukan pembelian fitur gim atau aplikasi tanpa memahami konsekuensi finansial, terutama ketika akun pembayaran orang tua telah terhubung dengan perangkat yang digunakan.
Menurut Prof. Ngurah, kasus tersebut bukan lagi sekadar potensi ancaman, tetapi telah banyak terjadi di masyarakat.
Berdasarkan pengalamannya sebagai auditor perbankan, ia pernah menemukan sejumlah kasus saldo rekening orang tua berkurang hingga jutaan rupiah akibat transaksi digital yang dilakukan anak tanpa sepengetahuan keluarga.
Karena itu, ia meminta orang tua dan guru meningkatkan pengawasan terhadap penggunaan perangkat digital oleh anak.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain mengaktifkan fitur parental control, menerapkan sistem keamanan berlapis atau two-factor authentication, serta menghindari penyimpanan data kartu kredit maupun dompet digital pada perangkat yang digunakan anak.
"Jangan menghubungkan kartu kredit atau dompet digital ke perangkat anak apabila tidak benar-benar diperlukan. Pengamanan sederhana seperti autentikasi sidik jari juga sangat membantu mencegah transaksi yang tidak diinginkan," katanya.
Selain pengamanan teknologi, Prof. Ngurah menilai pendidikan keuangan perlu diterapkan melalui kebiasaan sehari-hari.
Ia menyarankan orang tua maupun guru mengenalkan konsep pengelolaan uang menggunakan tiga pos sederhana, yaitu uang untuk kebutuhan sehari-hari (spending), tabungan (saving), dan berbagi kepada sesama (sharing).
Metode tersebut dinilai mampu membentuk disiplin keuangan sekaligus menumbuhkan empati sosial sejak usia dini.
Anak-anak juga perlu dibiasakan memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan sebelum melakukan pembelian, misalnya dengan membuat daftar belanja terlebih dahulu agar tidak mudah tergoda promosi maupun iklan digital.
"Literasi keuangan adalah investasi terbaik yang dapat diberikan kepada anak. Kemampuan mengelola uang akan mereka bawa sepanjang hidup, apa pun profesinya kelak," ujarnya.
Penguatan literasi keuangan sejak dini sejalan dengan pelaksanaan Peraturan Pemerintah No 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas) yang mendorong terciptanya ruang digital yang aman dan sehat bagi anak.
Upaya tersebut juga mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, khususnya dalam membangun sumber daya manusia unggul, memperkuat literasi digital, meningkatkan kecakapan finansial generasi muda, serta menciptakan ekosistem digital yang aman dan produktif menuju Indonesia Emas 2045.