Surabaya, InfoPublik – Pertumbuhan eceng gondok yang semakin padat dan munculnya bangunan baru di sempadan Kali Surabaya menjadi sorotan Tim Patroli Air Jawa Timur. Temuan tersebut diperoleh saat patroli lintas sektor menyusuri aliran sungai dari wilayah Mojokerto dan Gresik hingga Surabaya, Selasa (27/10/2026).
Patroli yang melibatkan sekitar 35 personel tersebut menggunakan tiga perahu dan dua mobil operasional. Kegiatan ini melibatkan sejumlah instansi, antara lain Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur, DLH Kabupaten Mojokerto, DLH Kabupaten Gresik, DLH Kota Surabaya, Perum Jasa Tirta (PJT) I, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Dinas Perhubungan Jawa Timur, Dinas Pekerjaan Umum, Garda Lingkungan, Konsorsium Lingkungan Hidup, serta perwakilan masyarakat dan industri.
Koordinator Tim Patroli Air Jatim sekaligus Direktur Konsorsium Lingkungan Hidup Jatim, Imam Rochani, mengatakan, tim menemukan sejumlah bangunan baru di sempadan sungai yang diduga muncul dalam kurun waktu sekitar satu bulan terakhir. Bangunan tersebut meliputi kandang ayam, kolam budi daya lele, tempat kos, hingga perluasan bangunan industri di tepi sungai.
Tim juga menemukan, tumpukan tong pengapung yang diduga disiapkan untuk pembangunan jembatan terapung baru. Seluruh temuan tersebut akan dipantau dan dikoordinasikan dengan instansi yang berwenang.
“Temuan bangunan liar di sempadan sungai hingga pembersihan eceng gondok ini membutuhkan sinergi 'siapa berbuat apa' sesuai kewenangan,” ujar Imam di sela-sela patroli.
Eceng Gondok Hambat Penyisiran
Kepadatan eceng gondok bahkan menghambat perjalanan tim di lapangan. Kondisi tersebut membuat perahu patroli tidak dapat melanjutkan penyisiran hingga kawasan Gunung Sari, Surabaya. Tim akhirnya harus mengangkut perahu di kawasan perbatasan Karangpilang, Surabaya.
Imam menyataka, Perum Jasa Tirta (PJT) I telah mengoperasikan alat berat Kualanamu untuk membantu membersihkan eceng gondok. Namun, penanganan persoalan sungai tetap membutuhkan koordinasi lintas instansi, terutama untuk memperjelas pembagian kewenangan dan memastikan tindak lanjut di lapangan.
Tim Patroli Air Jatim berencana menyampaikan laporan resmi beserta rekomendasi tindak lanjut kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas dan instansi pembina terkait. Langkah tersebut diharapkan dapat memastikan penanganan bangunan di sempadan sungai dan berbagai persoalan lingkungan lainnya berjalan sesuai tugas dan fungsi masing-masing instansi.
Sampel Air Kali Surabaya Menunggu Hasil Labotarium
Selain menyoroti eceng gondok dan bangunan di sempadan sungai, tim mengambil sampel air di sejumlah titik untuk melakukan pemeriksaan awal kualitas air. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari pengawasan terhadap potensi pembuangan limbah industri.
Tim sempat mencium aroma kurang sedap di beberapa lokasi. Meski demikian, hasil pengukuran awal menunjukkan derajat keasaman (pH) air masih dalam kondisi normal.
“Kondisi pH air relatif normal, tidak ditemukan indikasi pembuangan limbah secara mencolok saat hujan. Namun, terkait sampel air yang berbau sedikit, kita masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebabnya,” jelas Imam.
Patroli kali ini turut melibatkan perwakilan industri, salah satunya PT Kasmaji Inti Utama dari Mojokerto. Keterlibatan pelaku industri diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mengenai kondisi Kali Surabaya dan pentingnya menjaga kualitas air sungai.
Perwakilan perusahaan tersebut mengakui bahwa persoalan sampah dan eceng gondok membutuhkan penanganan bersama serta komitmen berkelanjutan. Hal ini penting karena sejumlah perusahaan memanfaatkan air Kali Surabaya sebagai bahan baku untuk kegiatan usaha.
Sejumlah perwakilan industri juga menyatakan komitmen untuk memperbaiki pengelolaan limbah cair agar memenuhi baku mutu sebelum dibuang melalui saluran pembuangan. Mereka juga merencanakan partisipasi dalam pemulihan lingkungan melalui penanaman pohon di sepanjang sempadan sungai.
Sungai Berpotensi Menjadi Sarana Edukasi Lingkungan
Sementara itu, Dosen Pendidikan Nonformal Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dr. Mustaqim, menilai kegiatan susur sungai selama hampir lima jam dari Jetis hingga Surabaya menunjukkan potensi sungai sebagai sarana edukasi lingkungan, eduwisata, dan pemberdayaan masyarakat setempat.
Menurutnya, upaya menjaga kelestarian sungai perlu melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media melalui pendekatan pentahelix. Edukasi berkelanjutan juga diperlukan untuk mendorong masyarakat dan pelaku industri agar tidak membuang sampah maupun limbah sembarangan.
Kolaborasi berbagai pihak diharapkan dapat memperkuat pengawasan, mempercepat penanganan persoalan di sempadan sungai, serta menjaga kualitas air Kali Surabaya sebagai salah satu sumber air baku bagi kebutuhan masyarakat.(MC Prov Jatim/hjr/eyv)