SLEMAN, InfoPublik - Ketertarikan Karang Jimbaran Setyatrisila pada peristiwa masa lampau tidak lahir dari ruang kelas, melainkan tumbuh saat ia mengekor sang ayah menyusuri berbagai situs peninggalan sejarah Nusantara sejak belia.
Pengalaman empiris yang lekat dengan tradisi dan cagar budaya tersebut akhirnya mengantarkan pemuda kelahiran 1 Maret 2006 ini menembus ketatnya seleksi Beasiswa Indonesia Maju (BIM) pada tahun 2023.
Ekspedisi intelektual mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini mulai terarah secara strategis ketika pandemi melanda.
Saat masih berseragam sekolah menengah, ia agresif membedah strategi seleksi pendanaan pendidikan dan membangun jejaring dengan para penerima beasiswa melalui berbagai seminar daring.
Ketekunan menyerap informasi tersebut berbuah manis ketika ia terpilih mewakili Indonesia untuk mengikuti program musim panas di University of Toronto, Kanada.
Ekspedisi akademik lintas benua bersama 20 siswa unggulan lainnya itu sukses memperluas wawasan keilmuan sekaligus menancapkan pijakan pergaulan internasionalnya.
Merawat Kedisiplinan Akademik
Pilihan menjadikan UNY sebagai pelabuhan akademik bermula dari perjumpaannya dengan seorang juri saat ia menyabet juara ketiga Kompetisi Esai Sejarah tingkat nasional.
Interaksi berharga dalam kompetisi garapan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut meyakinkannya untuk menyelami ilmu sejarah secara komprehensif di tingkat perguruan tinggi.
Bagi Karang, kucuran pendanaan dari pemerintah bukanlah sekadar privilese, melainkan amanah besar yang menuntut pertanggungjawaban akademik.
Keleluasaan finansial tersebut dimaksimalkannya untuk merakit proposal penelitian, meramu artikel ilmiah, serta melahap jurnal literatur tanpa batasan biaya.
Guna menjaga konsistensi kinerja, ritme kesehariannya digerakkan oleh rutinitas subuh yang diisi dengan ibadah, kajian pustaka, hingga penajaman kemampuan bahasa Inggris.
Fondasi manajemen waktu yang ditanamkan oleh keluarganya ini membantunya menyeimbangkan kewajiban perkuliahan dengan intensitas partisipasinya di berbagai simposium internasional.
Mahasiswa berprestasi ini menolak menjadikan pencapaian sarjana sebagai garis akhir dari perjalanan intelektualnya.
"Masih banyak pengalaman dan ilmu yang harus saya pelajari. Salah satu tahapannya adalah melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dan mendapatkan beasiswa, sehingga untuk itulah saya harus memantaskan diri," ujar Karang menetapkan garis pijak masa depannya. (MC Kab. Sleman/Athiful)