SLEMAN, InfoPublik - Di tengah hiruk-pikuk wisatawan yang berburu kuliner tradisional pada akhir pekan di kawasan Lembah Si Cangkring, Kapanewon Tempel, sebuah monumen sejarah berdiri dalam diam.
Tepat di sisi barat gerbang masuk, sebuah konstruksi besi raksasa yang melintang di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah nyaris lenyap dari pandangan, tertelan rimbunnya tanaman rambat Ivy Curtain (Cissus sicyoides).
Sebagian besar pengunjung berlalu-lalang tanpa menyadari bahwa gundukan hijau tersebut menyembunyikan sisa infrastruktur vital dari sistem pengairan legendaris, Selokan Mataram.
Rangka besi itu merupakan peninggalan rekayasa irigasi masa lampau yang dahulu menjadi urat nadi kehidupan agraris dan penopang ketahanan pangan bagi masyarakat di lereng Gunung Merapi.
Warga setempat yang merekam ingatan masa lalu, Ruswantoro, memaparkan bahwa struktur besi itu merupakan jalur layang lama Selokan Mataram yang bertugas menyeberangkan aliran air melintasi bentangan Sungai Krasak.
Keberadaannya pada masa itu menjadi penyambung napas bagi ladang-ladang pertanian yang mengandalkan pasokan irigasi konsisten dari sungai hulu.
Benteng Menghadapi Lahar Dingin
Namun, posisi talang yang menggantung tepat di atas jalur utama aliran lahar membuatnya menjadi sasaran empuk amukan alam.
Rekam jejak sejarah mencatat, fasilitas pengairan ini harus jatuh bangun menahan hantaman material vulkanik Gunung Merapi.
Kerusakan terparah terekam pada 1961 dan kembali disapu bersih oleh luapan lahar dingin pada 24 November 1969, yang dengan buas menghanyutkan 17 meter konstruksi talang darurat tanpa sisa.
Kerentanan infrastruktur gantung tersebut memaksa otoritas negara untuk merombak total pendekatan teknologi pengairan.
Memasuki 1970, para insinyur meninggalkan konstruksi atas sungai dan memindahkan jalur air melalui sistem sipon beton bertulang.
Terowongan air ini ditanam jauh di bawah dasar Sungai Krasak, menciptakan perisai bawah tanah yang kebal terhadap terjangan batuan dan lumpur vulkanik hingga hari ini.
Sebelum dipensiunkan secara permanen, talang besi tersebut rupanya menyimpan memori sosial yang lekat dengan keseharian warga.
Pada masa kejayaannya, bagian atas kerangka besi itu diselimuti oleh susunan papan kayu yang dirangkai rapat.
Fasilitas modifikasi ini bertransformasi menjadi jembatan penyeberangan vital yang memungkinkan penduduk antardesa melintas aman dengan berjalan kaki sembari menuntun sepeda mereka menembus derasnya arus.
Kini, lalu lintas manusia dan kendaraan bermotor telah sepenuhnya berpindah ke jembatan modern yang berdiri hanya beberapa meter dari lokasi awal.
Meski wujud fisiknya telah seutuhnya dibalut oleh jubah dedaunan hijau, talang lama Selokan Mataram tetap tegak sebagai saksi bisu kelihaian peradaban manusia dalam beradaptasi dengan ritme alam dan keganasan erupsi Merapi. (MC Kab. Sleman/KIM Senyum Tempel/Sadhono Hadi)