PARIGI MOUTONG, InfoPublik - Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong menerjunkan 353 mahasiswa untuk membangun ekosistem desa cerdas dan membumikan moderasi beragama di kawasan perdesaan terpencil mulai Senin (19/10/2026).
Ratusan akademisi muda dari Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu tersebut dijadwalkan menetap dan mengabdi di 44 desa yang melintasi tujuh kecamatan, terbentang dari wilayah Sausu hingga Kasimbar.
Kabupaten Parigi Moutong tercatat menyerap kuota peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik terbesar dari total 1.125 mahasiswa yang didistribusikan ke empat kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah pada periode akhir tahun ini.
Bupati Parigi Moutong, Erwin Burase, memosisikan kehadiran kaum intelektual tersebut sebagai katalisator untuk mengakselerasi visi kemandirian daerah.
Intervensi mahasiswa di tingkat akar rumput ditargetkan sanggup memecahkan kebuntuan literasi digital aparatur dalam membangun desa cerdas, sekaligus merawat fondasi kerukunan antarumat beragama di tengah keragaman demografi setempat.
Langkah ini sejalan dengan prioritas nasional dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul dan menguasai tata kelola wilayah.
Guna meminimalkan gesekan kultural, otoritas daerah menginstruksikan seluruh peserta agar melebur sepenuhnya dengan norma adat lokal dan menjalin komunikasi intensif dengan perangkat pemerintahan desa.
Erwin mewanti-wanti para mahasiswa untuk aktif berkoordinasi dengan struktur birokrasi terdekat, mulai dari kepala desa hingga camat, agar setiap program pemberdayaan yang dicanangkan tereksekusi secara tuntas tanpa hambatan berarti.
Dari sisi akademik, Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIN Datokarama Palu, Atok Soeharto, memaparkan, pemindahan ruang belajar dari tembok kampus ke alam terbuka menuntut kemampuan adaptasi tingkat tinggi.
Mahasiswa ditantang untuk meramu teori-teori akademis menjadi solusi praktis yang dapat memajukan taraf hidup dan tata kelola masyarakat desa dari 15 Oktober hingga 15 Desember 2026.
"Di pundak kalian ada karakter Islami yang harus selalu melekat. Terapkan prinsip di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung selama membaur bersama warga perdesaan," tutur Atok Soeharto menegaskan pedoman etika bagi para mahasiswanya. (MC Parigi Moutong/Sri/Ard)