Blora, InfoPublik - Musim kemarau ekstrem yang tengah melanda wilayah Kabupaten Blora tidak hanya memicu krisis air bersih bagi kebutuhan rumah tangga.
Sektor usaha mikro, seperti industri rumahan batu bata merah, kini turut menjerit akibat sulitnya mendapatkan pasokan air untuk proses produksi.
Kondisi memprihatinkan ini salah satunya dirasakan oleh para perajin batu bata merah di Desa Sendangmulyo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora.
Mereka terpaksa mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengangkut air menggunakan jerigen demi melembekan material tanah baku yang mengeras akibat paparan cuaca panas menyengat.
Untuk menjaga agar dapur produksi tetap mengepul, para perajin di Desa Sendangmulyo terpaksa mengambil air dari sebuah sumur sendang yang jaraknya cukup jauh.
Jarak dari lokasi pembuatan batu bata menuju sumber air tersebut mencapai hampir 2 kilometer.
Setiap kali jalan, mereka mengandalkan sepeda motor untuk mengangkut tiga buah jerigen besar. Langkah ini terpaksa dilakukan karena tanah yang menjadi bahan baku utama pembuatan batu bata merah kondisinya sangat keras akibat kemarau ekstrem. Tanah tersebut wajib disiram air terlebih dahulu agar teksturnya bisa dicetak.
Salah satu perajin batu bata merah setempat, Sarmidi, mengaku sangat resah dengan kondisi kekeringan berkepanjangan ini.
"Kondisinya memang sulit sekali karena air susah didapat. Padahal tanahnya keras, kalau tidak disiram tidak bisa dicetak," ujar Sarmidi saat ditemui di lokasi produksinya, Sabtu (3/10/2026).
Meski didera krisis air, semangat Sarmidi tidak surut. Dibantu oleh sang istri, ia tetap memaksakan diri untuk terus berproduksi.
Dalam sehari, pasangan suami istri ini bahkan mampu mencetak sedikitnya 700 biji batu bata merah.
Di sisi lain, Sarmidi tidak menampik bahwa musim kemarau ini layaknya pisau bermata dua. Di balik sulitnya mencari air baku, cuaca panas yang ekstrem ini juga membawa berkah tersendiri bagi proses akhir pembuatan batu bata.
Proses penjemuran dan pengeringan batu bata merah mentah menjadi jauh lebih cepat dibandingkan saat musim penghujan.
Hal ini membuat siklus produksi hingga tahap pembakaran batu bata menjadi lebih singkat.
Kualitas batu bata merah buatan Sarmidi yang dikeringkan di bawah terik matahari langsung tergolong sangat baik, sehingga diminati pasar.
"Batu bata yang saya produksi biasanya langsung diambil oleh pihak toko bangunan maupun pengepul yang datang langsung ke lokasi pembuatan," kata Sarmidi.
Dalam sekali siklus pembakaran berskala besar, Sarmidi mampu menghasilkan hingga 13.000 biji batu bata merah siap jual untuk memenuhi tingginya permintaan bahan bangunan di wilayah Blora dan sekitarnya. (MC Kab Blora/Teguh_Supri)