Jenggala dan Delta Brantas, Potongan Sejarah Sidoarjo Abad ke-11
Sidoarjo, InfoPublik — Di sepanjang aliran Sungai Brantas pernah tumbuh sebuah kerajaan yang namanya masih hidup dalam ingatan masyarakat Jawa Timur hingga sekarang: Jenggala.
Meski jejak fisiknya tidak sepopuler Majapahit, Jenggala memiliki posisi penting dalam rangkaian sejarah Jawa Timur abad ke-11. Kerajaan ini juga kerap dikaitkan dengan perkembangan kawasan Delta Brantas, termasuk wilayah yang kini menjadi Kabupaten Sidoarjo.
Dalam rekonstruksi sejarah yang umum digunakan, kemunculan Jenggala berkaitan dengan pembagian wilayah kekuasaan Raja Airlangga menjelang akhir pemerintahannya pada sekitar pertengahan abad ke-11.
Kekuasaan Kahuripan kemudian terbagi menjadi dua wilayah yang dalam sumber dan kajian sejarah dikenal sebagai Jenggala dan Panjalu atau Kadiri. Pembagian tersebut kerap dijelaskan sebagai upaya mengurangi potensi perebutan kekuasaan di antara penerus Airlangga.
Jenggala dan Delta Brantas
Jenggala tidak dapat dilepaskan dari bentang alam Delta Brantas.
Kawasan hilir Sungai Brantas memiliki lahan subur, jaringan sungai yang luas, serta akses menuju pesisir utara Jawa. Kondisi tersebut membuat kawasan delta mempunyai arti penting bagi pertanian, perdagangan, dan pergerakan manusia maupun barang.
Wilayah yang kini termasuk Sidoarjo berada dalam bentang geografis tersebut. Karena itu, hubungan Jenggala dengan kawasan Sidoarjo terus menjadi salah satu bagian menarik dalam kajian sejarah lokal.
Namun, letak pasti pusat pemerintahan atau keraton Jenggala belum dapat dipastikan.
Sejumlah hipotesis menghubungkannya dengan kawasan Kahuripan maupun wilayah yang kini berada di sekitar Sidoarjo dan Pasuruan. Belum ditemukannya bukti arkeologis yang secara meyakinkan menunjukkan lokasi keraton membuat persoalan tersebut tetap terbuka untuk penelitian.
Prasasti sebagai Landasan
Rekonstruksi sejarah masa Airlangga dan kerajaan-kerajaan penerusnya sangat bergantung pada sumber tertulis berupa prasasti.
Sejarawan Peter Carey, dalam tulisannya The Kolkata (Calcutta) Stone and the Bicentennial of the British Interregnum in Java, 1811–1816 yang dimuat IIAS Newsletter pada 2016, menyoroti arti penting prasasti dalam memahami sejarah Jawa.
Salah satu sumber penting dari masa Airlangga adalah Prasasti Pucangan atau yang juga dikenal melalui kaitannya dengan Batu Kalkuta.
Prasasti tersebut menjadi salah satu sumber primer dalam merekonstruksi perjalanan pemerintahan dan kehidupan Airlangga.
Epigraf Ninie Susanti dalam buku Airlangga: Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI juga membahas pentingnya Prasasti Pucangan dalam memahami perjalanan Airlangga serta kondisi politik pada zamannya.
Keberadaan sumber primer tersebut menjadi pengingat bahwa pembahasan mengenai Kahuripan dan Jenggala perlu dibedakan dari cerita rakyat atau tradisi lisan yang berkembang pada masa kemudian.
Raja-Raja Jenggala
Informasi mengenai penguasa Jenggala relatif terbatas jika dibandingkan dengan sejumlah kerajaan besar lain di Jawa Timur.
Nama Mapanji Garasakan muncul dalam rekonstruksi sejarah Jenggala, disusul sejumlah nama penguasa lain seperti Mapanji Alanjung Ahyes dan Samarotsaha.
Informasi mengenai perkembangan politik pada periode tersebut dihimpun para ahli melalui pembacaan sejumlah prasasti, antara lain Prasasti Turun Hyang II, Malenga, Banjaran, dan Sumengka.
Prasasti-prasasti tersebut menjadi bagian dari kepingan informasi yang digunakan untuk memahami dinamika kekuasaan di Jawa Timur setelah masa Airlangga.
Delta Brantas dan Jalur Ekonomi
Kekuatan kawasan Jenggala juga berkaitan dengan jaringan Sungai Brantas dan cabang-cabangnya.
Sungai bukan hanya menjadi sumber air bagi pertanian, tetapi pada masa sebelum berkembangnya jaringan jalan modern juga memiliki fungsi penting sebagai jalur pergerakan barang dan manusia.
Kawasan Delta Brantas mempunyai hubungan dengan pedalaman sekaligus wilayah pesisir. Posisi tersebut membuka peluang berkembangnya kegiatan pertanian dan perdagangan.
Berbagai komoditas seperti hasil pertanian, garam, maupun hasil alam lainnya diperkirakan bergerak melalui jaringan transportasi sungai dan jalur perdagangan yang berkembang pada masa itu.
Kondisi geografis tersebut turut membantu menjelaskan mengapa kawasan Delta Brantas mempunyai posisi penting dalam perkembangan politik dan ekonomi Jawa Timur selama berabad-abad.
Antara Sejarah dan Tradisi
Di tengah masyarakat Sidoarjo berkembang beragam cerita mengenai Jenggala, termasuk kisah tentang lokasi keraton maupun peninggalan kerajaan.
Tradisi tersebut mempunyai nilai penting sebagai bagian dari memori budaya masyarakat.
Namun, tradisi lisan tidak selalu dapat diperlakukan sebagai bukti sejarah tanpa dukungan sumber lain.
Hingga kini, lokasi pusat pemerintahan Jenggala masih menjadi persoalan akademik. Karena itu, berbagai tempat yang dikaitkan dengan keraton Jenggala lebih tepat ditempatkan sebagai hipotesis selama belum didukung bukti arkeologis yang memadai.
Kehati-hatian tersebut justru membuat penelusuran Jenggala semakin menarik. Prasasti, temuan arkeologis, kajian geografis, serta tradisi masyarakat dapat dibaca bersama untuk menyusun kepingan sejarah kawasan Delta Brantas.