Sabtu, 24 Oktober 2026

Kejar Target 95 Persen, Dinkes Gorontalo Perkuat Pendampingan Pasien TBC RO

Kejar Target 95 Persen, Dinkes Gorontalo Perkuat Pendampingan Pasien TBC RO

Workshop Konseling dan Pendampingan Pasien Tuberkulosis Resisten Obat (TBC RO) bagi Tenaga Kesehatan, Jumat (25/9/2026). (foto:mcogorontaloprov/ Anna)

Boalemo, InfoPublik  -  Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Gorontalo, Anang Otoluwa, menegaskan  penanganan TBC RO tidak hanya membutuhkan ketersediaan obat dan layanan kesehatan yang berkualitas, tetapi membutuhkan dukungan psikososial, komunikasi, serta pendampingan berkelanjutan.

“Penanganan TBC RO bukan hanya tentang memberikan obat dan melakukan pemeriksaan secara rutin. Kita juga harus memastikan pasien mendapatkan dukungan yang dibutuhkan selama menjalani pengobatan,” kata Anang Otoluwa pada Workshop Konseling dan Pendampingan Pasien Tuberkulosis Resisten Obat (TBC RO) bagi Tenaga Kesehatan, Kamis (24/9/2026).

Kegiatan  diikuti 45 peserta yang terdiri atas Pengelola Program TBC Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota serta petugas TBC dari Puskesmas dan Rumah Sakit.

Anang menyatakan, capaian program TBC RO di Provinsi Gorontalo saat ini menunjukkan persentase pasien TBC RO yang telah mendapatkan pengobatan mencapai 86 persen, sementara target yang ditetapkan sebesar 95 persen.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa upaya penemuan kasus, pengobatan, dan pelayanan TBC RO terus berjalan.

Namun, masih terdapat kesenjangan yang perlu menjadi perhatian dan tanggung jawab bersama.

Dalam situasi tersebut, tenaga kesehatan memiliki peran yang sangat penting.

Tenaga kesehatan tidak cukup hanya menyampaikan jadwal minum obat atau melakukan pemeriksaan rutin, tetapi juga harus mampu mendengarkan, memahami, memberikan informasi yang tepat, serta membantu pasien menemukan solusi atas berbagai hambatan yang dihadapi selama pengobatan.

Selain tantangan dalam memulai pengobatan, keberhasilan pengobatan pasien TBC RO juga perlu mendapatkan perhatian serius.

Setiap pasien yang tidak menyelesaikan pengobatan dapat menghadapi risiko kesehatan yang lebih besar. Kondisi itu sekaligus menegaskan pentingnya penguatan pendampingan sejak pasien memulai pengobatan hingga menyelesaikan seluruh rangkaian pengobatan.

“Data ini perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Setiap hambatan membutuhkan pendekatan yang tepat, karena tidak semua pasien memiliki kebutuhan dan permasalahan yang sama,” katanya.

Oleh karena itu, tenaga kesehatan didorong untuk menerapkan pendekatan yang berpusat pada pasien atau patient-centered care. Pasien perlu diperlakukan dengan hormat, tidak mendapatkan stigma, serta dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan terkait perawatan dan dukungan yang dibutuhkan.

“Kita harus mampu memberikan pelayanan yang lebih responsif, empatik, bermutu, dan berpihak pada pasien. Peningkatan keberhasilan pengobatan TBC RO merupakan tanggung jawab kita bersama,” tegasnya(mcgorontaloprov/anna/ilb/md)

sticky banner