Langgur, InfoPublik — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong perajin batik di Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku, mengembangkan satu motif khas yang merepresentasikan identitas Kei untuk diarahkan memperoleh perlindungan Indikasi Geografis (IG).
Pengembangan motif tersebut diharapkan memperkuat identitas Batik Kei sekaligus memberikan nilai tambah dan perlindungan kekayaan intelektual terhadap produk khas daerah.
Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian, Yedi Sabaryadi, mengatakan pengembangan motif perlu dibarengi peningkatan keterampilan dan kreativitas perajin.
Hal itu disampaikannya saat membuka Pendampingan Teknis Produksi bagi IKM Olahan Kelapa di Hotel Aurelia Kimson, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku, Selasa (22/9/2026).
“Mudah-mudahan nanti ada satu motif batik yang khas dari Maluku Tenggara, mungkin bisa juga untuk hak kekayaan intelektualnya diajukan untuk IG,” kata Yedi.
Menurutnya, motif yang dikembangkan perlu memiliki karakter kuat sehingga mudah dikenali sebagai bagian dari identitas Maluku Tenggara.
Kemenperin juga mendorong penguatan perlindungan kekayaan intelektual produk khas daerah melalui koordinasi dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum.
“Ini kenapa terus kita gaungkan, karena desain batik kita jangan sampai tercuri oleh negara lain,” ujarnya.
Yedi menyebut sejumlah daerah telah menjalani pendampingan untuk memperoleh perlindungan Indikasi Geografis bagi produk batiknya. Pengalaman tersebut, menurutnya, dapat menjadi pembelajaran bagi Maluku Tenggara untuk memperkuat karakter, kualitas, dan konsistensi Batik Kei.
Selain penguatan identitas, Kemenperin melihat peluang memperluas pasar Batik Kei melalui pemanfaatannya sebagai seragam sekolah.
Menurut Yedi, pemanfaatan batik lokal untuk kebutuhan sekolah dapat dimulai secara bertahap dengan mempertimbangkan kemampuan produksi perajin.
“Kita kecil-kecilan dulu, mudah-mudahan nanti dari situ bisa berkembang dengan potensi daya inovasi dan desain teman-teman di Maluku Tenggara,” ujarnya.
Pembentukan pasar lokal tersebut juga perlu diikuti peningkatan kualitas sumber daya manusia agar perajin mampu menjaga mutu sekaligus memenuhi kebutuhan produksi.
“Nanti kami bersama dengan beberapa pembina khusus untuk batik, ada di bidang sandang dan kerajinan. Nanti coba kita lihat bagaimana meningkatkan kualitas SDM untuk membatiknya,” kata Yedi.
Pendampingan tersebut diarahkan pada peningkatan keterampilan membatik, pengembangan desain, serta kualitas produk.
Dengan peningkatan kapasitas tersebut, Sentra Batik Maluku Tenggara diharapkan mampu memperluas pasar tanpa kehilangan karakter budaya yang menjadi pembeda produknya.
Pengembangan motif yang berangkat dari budaya, alam, dan identitas Kei juga diharapkan memperkuat posisi batik lokal sebagai produk kreatif daerah sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi bagi perajin.
(MC.Maluku Tenggara/Adolof Labetubun)