Prasasti Masa Airlangga Ungkap Peran Desa dan Irigasi dalam Ekonomi Jawa Kuno
Istimewa
Istimewa
Sidoarjo, InfoPublik – Jejak pemerintahan Raja Airlangga tidak hanya berkaitan dengan konsolidasi politik di Jawa pada abad ke-11. Sejumlah prasasti dari masanya juga menjadi sumber untuk melihat pengelolaan desa, irigasi, perdagangan, perpajakan, dan kehidupan masyarakat.
Catatan epigrafis tersebut memberikan gambaran bahwa aktivitas pemerintahan berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat agraris serta pemanfaatan jaringan Sungai Brantas sebagai bagian dari kegiatan ekonomi.
Salah satu konsep yang dikenal pada masa Jawa Kuno adalah desa sīma, yakni wilayah yang memperoleh penetapan khusus dari penguasa. Penetapan tersebut dapat berkaitan dengan kewajiban dan hak tertentu yang dituangkan dalam prasasti sebagai dokumen resmi.
Dalam sejumlah kajian sejarah, penetapan sīma dikaitkan dengan kepentingan keagamaan, pengelolaan wilayah, pembangunan fasilitas, maupun jasa masyarakat kepada kerajaan. Catatan tersebut menjadi salah satu sumber untuk memahami hubungan antara pemerintahan pusat dan masyarakat desa.
Selain administrasi desa, pengelolaan air menjadi bagian penting dalam masyarakat agraris di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.
Prasasti Kamalagyan merupakan salah satu sumber yang kerap digunakan untuk membahas kebijakan pengelolaan air pada masa Airlangga. Keberadaan sistem pengairan memiliki arti penting karena kegiatan pertanian bergantung pada kemampuan masyarakat dan pemerintah mengelola aliran air.
Produksi pertanian pada gilirannya berkaitan dengan kegiatan ekonomi yang lebih luas. Sungai tidak hanya menyediakan air bagi pertanian, tetapi juga menjadi salah satu jalur pergerakan manusia dan komoditas.
Sungai Brantas memiliki posisi penting sebagai jalur yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan kawasan hilir Jawa Timur. Berbagai hasil pertanian dan komoditas dapat bergerak melalui jaringan sungai menuju pusat-pusat kegiatan ekonomi.
Wilayah yang kini menjadi Kabupaten Sidoarjo berada pada kawasan Delta Brantas. Kondisi geografis tersebut membuat sejarah pengelolaan sungai dan pertanian menjadi salah satu konteks penting dalam membaca perkembangan kawasan dari masa ke masa.
Ketua Perkumpulan Ahli Epigrafi Indonesia, Ninie Susanti, dalam buku Airlangga: Biografi Raja Pembaru Jawa Abad XI yang diterbitkan Komunitas Bambu pada 2010, membahas Prasasti Pucangan sebagai salah satu sumber penting untuk memahami perjalanan pemerintahan Airlangga.
Prasasti-prasasti dari masa tersebut juga digunakan para peneliti untuk menelusuri proses pemulihan tatanan pemerintahan dan kehidupan masyarakat setelah periode konflik.
Sementara itu, Peter Carey dalam kajian berjudul The Kolkata (Calcutta) Stone and the Bicentennial of the British Interregnum in Java, 1811–1816 yang dimuat IIAS Newsletter pada 2016 turut membahas pentingnya Prasasti Pucangan sebagai sumber primer sejarah Airlangga.
Keberadaan sumber primer menjadi penting karena informasi dalam prasasti dapat digunakan bersama temuan dan kajian lain untuk merekonstruksi kondisi politik, sosial, serta ekonomi pada masa tersebut.
Bagi Sidoarjo, pembacaan sejarah Delta Brantas memberikan perspektif mengenai hubungan antara lingkungan, pertanian, jalur air, dan aktivitas ekonomi yang telah berlangsung sejak masa lampau.
Jejak tersebut juga menunjukkan pentingnya pengelolaan sumber daya air dan konektivitas wilayah dalam perkembangan kehidupan masyarakat di kawasan Delta Brantas.
(ir_kominfosda)
© Copyright 2026, All Rights Reserved