SLEMAN, InfoPublik – Upaya percepatan penurunan angka stunting di tingkat desa tidak lagi sebatas mengandalkan pemantauan fisik seperti penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan balita semata.
Kemampuan para kader kesehatan dalam mendengarkan persoalan warga, membangun rasa saling percaya, serta menyampaikan edukasi tanpa memicu perasaan dihakimi kini menjadi instrumen vital dalam proses pendampingan keluarga.
Menyadari krusialnya aspek tersebut, Tim Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) Kalurahan Condongcatur menginisiasi Pembinaan Keterampilan Komunikasi Edukasi bagi 30 kader Posyandu se-Kalurahan Condongcatur.
Kegiatan bertajuk “Teknik Komunikasi dalam Edukasi kepada Orang Tua yang Memiliki Balita Stunting” ini dilaksanakan di Ruang Wacana Loka, Condongcatur, Depok, Sleman, Rabu (9/9/2026).
Ketua DASHAT Condongcatur, Tatik Sukarsih, menjelaskan, peningkatan kapasitas kader merupakan prioritas mendesak mengingat posisi mereka sebagai garda terdepan yang berinteraksi langsung dengan masyarakat di tingkat padukuhan.
Menurutnya, penyampaian informasi gizi harus diimbangi dengan pendekatan sosial-emosional yang tepat.
Senada dengan hal tersebut, Kamituwa Condongcatur, Al Thouvik Sofisalam, mengutarakan, penanggulangan stunting memerlukan komitmen bersama yang berkelanjutan.
Pemerintah kalurahan terus berupaya mengalokasikan anggaran dan memfasilitasi integrasi program lintas sektor demi memastikan seluruh keluarga sasaran mendapat intervensi memadai.
Sementara itu, dinamika dan kendala pelik di lapangan turut disoroti oleh Ketua Kampung Keluarga Berkualitas (KKB) Condongcatur, Novita Savitri.
Ia mengungkapkan, kader sering kali berhadapan dengan situasi psikologis keluarga yang sensitif, seperti pendampingan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) maupun ibu yang mengalami gangguan kecemasan pascamelahirkan (baby blues).
Kondisi tersebut selaras dengan pengalaman kader Posyandu, Sri Bardani, yang menceritakan rumitnya memberikan arahan gizi ketika balita diasuh oleh neneknya.
Pola pengasuhan antargenerasi sering kali memicu ketidaksesuaian asupan makanan anak dengan panduan gizi seimbang Isi Piringku.
Menanggapi berbagai persoalan tersebut, Psikolog Puskesmas Depok II, Swastika Normalasari, menekankan pentingnya penerapan komunikasi empatik.
Ia mengingatkan para kader untuk menggunakan bahasa yang sederhana, aktif mendengarkan keluhan pengasuh, serta menghindari pendekatan yang membuat keluarga merasa disalahkan.
Melalui komunikasi yang santun dan terbuka, kader diharapkan mampu membangun jembatan kepercayaan dengan warga.
Apabila ditemukan kendala tumbuh kembang yang membutuhkan penanganan medis atau kejiwaan lebih lanjut, kader dapat segera mengarahkan keluarga untuk mendapatkan rujukan kepada bidan, ahli gizi, dokter, maupun psikolog di fasilitas kesehatan. (MC Sleman / Wasana / KIM Depok)