Jakarta, InfoPublik — Pemulihan ekosistem gambut menjadi salah satu langkah penting untuk menekan emisi gas rumah kaca, mencegah kebakaran hutan dan lahan, serta menjaga sumber penghidupan masyarakat. Untuk memperkuat upaya tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) melanjutkan kerja sama riset restorasi gambut di Kalimantan Barat hingga 2029.
Kolaborasi yang telah berlangsung sejak 2023 itu diperkuat melalui penandatanganan perubahan perjanjian kerja sama antara Pusat Riset Ekologi (PRE), Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan (ORHL) BRIN dan YKAN di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno, Cibinong, Kamis (29/10/2026).
Kerja sama ini berfokus pada penelitian pengurangan emisi, pengendalian kebakaran, pemulihan ekosistem gambut, serta peningkatan manfaat sosial ekonomi bagi masyarakat sekitar. Kedua pihak juga mengembangkan sistem pemantauan kebakaran, pengukuran gas rumah kaca, dan pengelolaan data karbon berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pendekatan berbasis riset diperlukan agar restorasi tidak berhenti pada pemulihan lahan yang rusak, tetapi juga mampu mengembalikan fungsi ekologis gambut dalam jangka panjang.
Kepala Pusat Riset Ekologi BRIN Asep Hidayat mengatakan, penelitian berperan penting untuk memastikan ekosistem gambut yang terdampak kebakaran dapat pulih dan kembali menjalankan fungsi alaminya.
Menurut dia, pemadaman api hanya merupakan tahap awal dalam penanganan kebakaran. Setelah itu, kondisi ekosistem perlu dikaji untuk mengetahui kemampuan gambut dalam mempertahankan fungsi hidrologis dan menyimpan air.
“Setelah kebakaran dipadamkan, kita perlu melihat bagaimana kondisi ekosistem gambut dan apakah fungsinya masih berjalan. Hal ini membutuhkan penelitian dan bukti ilmiah agar upaya pemulihan yang dilakukan benar-benar dapat mengembalikan fungsi ekosistem,” ujar Asep.
Pemantauan kondisi gambut menjadi penting karena kerusakan ekosistem dapat memengaruhi tata air dan meningkatkan kerentanan kawasan terhadap kebakaran berulang. Karena itu, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar penentuan langkah restorasi yang sesuai dengan kondisi kawasan. Selain mengevaluasi pemulihan ekosistem, pengukuran emisi gas rumah kaca juga diperlukan untuk menilai dampak restorasi terhadap upaya mitigasi perubahan iklim.
Direktur Program Terestrial YKAN Ruslandi menjelaskan, ekosistem gambut memiliki fungsi strategis dalam menyimpan karbon, mengatur tata air, dan menjaga keanekaragaman hayati. Namun, degradasi lahan, kebakaran, dan perubahan iklim menjadi ancaman bagi keberlanjutan ekosistem tersebut.
Menurut Ruslandi, upaya konservasi perlu dilakukan melalui dua pendekatan yang saling melengkapi, yakni melindungi kawasan gambut yang masih utuh dan memulihkan kawasan yang telah mengalami kerusakan.
Pada saat yang sama, upaya perlindungan lingkungan perlu memperhatikan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gambut. Pelibatan masyarakat dan pengembangan praktik pengelolaan lahan berkelanjutan menjadi bagian penting agar konservasi dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan.
Dengan pendekatan tersebut, restorasi gambut tidak hanya diarahkan untuk memperbaiki kondisi lingkungan, tetapi juga membangun manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN sekaligus penanggung jawab kegiatan, Wahyu Catur Adinugroho, mengatakan, kerja sama periode 2023–2026 telah menghasilkan sejumlah kajian teknis dan sosial ekonomi. Kajian tersebut mencakup evaluasi dampak restorasi, dukungan infrastruktur, pengembangan praktik pertanian berkelanjutan, dan publikasi ilmiah.
“Pemantauan emisi menjadi salah satu aspek penting untuk mengevaluasi keberhasilan restorasi gambut. Penelitian juga mencakup kajian kebakaran, manfaat pemulihan ekosistem, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat,” kata Wahyu.
Ke depan, kelanjutan kolaborasi hingga 2029 diharapkan memperkuat pemanfaatan hasil penelitian dalam pengelolaan gambut di Kalimantan Barat. Pengembangan data karbon, pemantauan kebakaran, dan evaluasi dampak restorasi menjadi bagian dari upaya membangun pengelolaan ekosistem yang lebih terukur.
Melalui kolaborasi riset dan konservasi, BRIN dan YKAN mendorong agar pemulihan gambut tidak hanya berorientasi pada perbaikan lingkungan, tetapi juga berkontribusi terhadap pengurangan emisi, pencegahan kebakaran berulang, dan keberlanjutan penghidupan masyarakat di sekitar kawasan gambut.