Jakarta, InfoPublik — Generasi muda Indonesia perlu memiliki ambisi besar, kegigihan, dan keberanian untuk menghasilkan karya yang diakui dunia. Ketiga karakter tersebut menjadi bekal penting untuk meningkatkan daya saing bangsa dan mendorong Indonesia mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan, kemajuan suatu bangsa tidak dapat dicapai melalui upaya yang setengah-setengah. Indonesia membutuhkan target yang jelas, semangat untuk terus berkembang, serta keberanian menetapkan standar pencapaian yang tinggi.
“Saya selalu bilang bahwa tidak ada bangsa-bangsa di dunia yang menjadi bangsa yang maju, dengan sekedarnya saja,” tegas Brian dalam kegiatan Indonesia Youth Summit di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Brian menjelaskan, tantangan peningkatan kesejahteraan Indonesia dapat dilihat melalui perbandingan pendapatan per kapita. Ia menggunakan angka sekitar 15.000 dolar AS sebagai ilustrasi tingkat pendapatan negara maju, sedangkan Indonesia masih berada di kisaran 5.000 dolar AS per kapita.
Perbandingan tersebut, menurutnya, menggambarkan besarnya upaya yang dibutuhkan untuk mengejar ketertinggalan. Indonesia harus berani menetapkan sasaran peningkatan produktivitas dan daya saing agar mampu mempersempit kesenjangan dengan negara-negara maju.
“Kalau kita sekarang masih lima ribu, jadi langsung naik tiga kali lipat dari sekarang. Gampangnya begitu. Kalau kita naik tiga kali lipat, kalau kita lihat seluruh bangsa-bangsa itu berhasil keluar dari kondisi itu tidak lain, tidak bukan harus ambisius,” ungkapnya.
Dalam momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Brian menekankan bahwa patriotisme generasi muda perlu diwujudkan melalui kontribusi nyata bagi bangsa. Kecintaan terhadap tanah air tidak cukup diungkapkan melalui simbol atau slogan, tetapi harus tercermin dalam kemampuan menciptakan karya yang membanggakan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menurutnya, generasi muda perlu membangun kepercayaan diri sebagai bagian dari bangsa besar. Kemajuan negara lain semestinya menjadi sumber inspirasi untuk belajar dan meningkatkan kemampuan, bukan alasan untuk merasa rendah diri.
Brian mendorong anak muda Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global melalui karya di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan berbagai sektor produktif lainnya. “Jadi nasionalis ke depan itu adalah patriotik ke depan. Itu adalah bagaimana kita bisa membawa karya-karya anak bangsa di tingkat dunia,” tutur Brian.
Pendekatan tersebut menempatkan patriotisme sebagai kekuatan untuk mendorong kemajuan. Generasi muda diharapkan tidak hanya bangga terhadap identitas nasional, tetapi juga mampu menunjukkan kualitas Indonesia melalui hasil kerja, kreativitas, dan inovasi yang kompetitif.
Brian juga mengingatkan pentingnya mengembangkan tiga karakter utama, yakni patriotik, gigih, dan berempati. Ketiganya perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar tidak berhenti sebagai slogan peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Karakter patriotik mendorong generasi muda berkontribusi bagi bangsa, kegigihan menjadi modal untuk menghadapi tantangan dan terus memperbaiki diri, sedangkan empati memastikan kemajuan yang dicapai tetap memperhatikan kebutuhan serta kepentingan masyarakat.
Ketiga karakter tersebut dinilai saling melengkapi dalam membentuk generasi muda yang mampu berprestasi sekaligus memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. “Saya yakin, apa pun yang terjadi, kalau kita punya tiga karakter ini, maka anak-anak muda akan mencapai titik berhasil,” pungkas Brian.
Melalui penguatan karakter tersebut, Kemdiktisaintek mendorong generasi muda menjadikan momentum Sumpah Pemuda sebagai pijakan untuk meningkatkan kapasitas diri dan menghasilkan karya nyata. Tantangan ke depan bukan hanya membawa Indonesia semakin maju, tetapi juga memastikan generasi muda mampu berkontribusi dalam persaingan global tanpa kehilangan kepedulian terhadap sesama.