SLEMAN, InfoPublik - Fenomena limpasan air hujan yang selama ini kerap terbuang sia-sia mendorong Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman untuk terus memelopori gerakan pemanenan air secara mandiri.
Inisiatif tersebut digaungkan oleh Pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, melalui program edukasi dan instalasi lumbung air di lingkungan kampus vokasi.
Wahyuningsih menilai, air hujan sejatinya memiliki nilai guna ekonomis dan ekologis yang sangat tinggi apabila dikelola dengan metodologi yang tepat.
Pengenalan teknik pemanenan air di tingkat perguruan tinggi dipandang sangat strategis untuk mencetak sumber daya manusia yang responsif terhadap ancaman krisis air bersih.
"Mahasiswa tidak cukup hanya memahami persoalan air secara teoretis, tetapi juga perlu memiliki kemampuan praktis untuk mengidentifikasi potensi, mengelola, serta memanfaatkan air hujan sesuai kebutuhan," tegas Wahyuningsih di Kapanewon Ngaglik, Sleman, Selasa (27/10/2026).
Gerakan konservasi ini tidak sekadar mentransfer pengetahuan teknis mengenai perakitan Instalasi Lumbung Air Hujan, melainkan mendobrak pola pikir masyarakat dari sekadar membuang air menjadi memanennya.
Apabila hendak dialokasikan sebagai air minum harian, masyarakat diimbau untuk mematuhi standar kebersihan wadah serta melakukan pengujian laboratorium sesuai parameter kesehatan.
"Apabila akan digunakan untuk minum atau kebutuhan konsumsi, diperlukan pengolahan dan pengujian kualitas sesuai standar kesehatan agar aman bagi masyarakat," urainya menambahkan.
Transformasi perilaku hemat air ini diharapkan mampu bergulir menjadi gerakan sosial yang dimasifkan oleh para mahasiswa di tengah masyarakat.
Pengelolaan air hujan yang terukur diyakini sanggup menekan ketergantungan publik pada sumber air tanah sekaligus membentengi lingkungan dari risiko kekeringan. (MC Kab. Sleman/KIM Pararta Guna Gamping/Adnan Nurtjahjo)