Jakarta, InfoPublik – Pemerintah terus memperkuat upaya penanggulangan tuberkulosis (TB) melalui pendekatan yang lebih komprehensif. Selain pengobatan medis, peran nutrisi turut dikaji sebagai salah satu strategi untuk mendukung pencegahan TB, terutama pada orang yang tinggal serumah dengan pasien.
Pendekatan tersebut menjadi fokus studi Prevention of Household Tuberculosis with Optimal Nutrition (PHOTON) yang melibatkan Indonesia dan Tanzania. Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menilai, pendekatan berbasis nutrisi perlu diteliti lebih lanjut untuk melengkapi berbagai upaya medis yang selama ini dilakukan.
“Kita sudah bekerja keras melawan TB, tetapi kita belum menang. Kenyataannya, kita masih menempati urutan kedua dengan beban TB tertinggi di dunia. Mungkin ada satu jawaban yang selama ini ada di piring makan kita,” ujar Dante saat memberikan sambutan dalam kick-off meeting Studi Prevention of Household Tuberculosis with Optimal Nutrition (PHOTON) di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Menurut Dante, penanggulangan TB selama ini dilakukan melalui berbagai upaya, mulai dari pengobatan, pengembangan vaksin, hingga penyediaan alat diagnosis. Namun, besarnya beban penyakit tersebut menunjukkan perlunya strategi yang lebih menyeluruh, termasuk dengan mengkaji peran status gizi dalam pencegahan dan penanganan TB.
Melalui studi PHOTON, para peneliti akan mengevaluasi efektivitas suplementasi gizi dalam menurunkan kejadian TB pada kontak serumah pasien. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti ilmiah untuk memperkuat strategi pencegahan TB.
Studi PHOTON melibatkan 78.400 peserta di Indonesia dan Tanzania. Dari jumlah tersebut, sebanyak 42.260 peserta berasal dari Indonesia. Penelitian ini direncanakan berlangsung selama lima tahun. Di Indonesia, penelitian dipimpin Universitas Indonesia (UI) melalui Center for Global Resilience in Health and Nutrition, dengan dukungan mitra nasional dan internasional. Lokasi penelitian direncanakan mencakup Jakarta, Depok, Bogor, dan Lombok.
Dalam pelaksanaannya, penelitian akan membandingkan tiga pendekatan suplementasi gizi dengan kelompok plasebo. Pendekatan tersebut meliputi pemberian vitamin B; kombinasi vitamin B dan multimikronutrien; serta kombinasi vitamin B, multimikronutrien, dan suplementasi protein-energi seimbang.
Suplementasi direncanakan diberikan selama enam bulan, sementara evaluasi manfaat dilakukan selama 24 bulan. Penelitian ini akan menilai kejadian TB yang terkonfirmasi secara bakteriologis, baik TB paru maupun TB ekstraparu.
PHOTON mendapat dukungan dari Gates Foundation, Wellcome Trust, dan Novo Nordisk Foundation. Pelaksanaannya di Indonesia juga didukung Kementerian Kesehatan bersama berbagai pemangku kepentingan dalam program penanggulangan TB.
Wamenkes Dante berharap penelitian tersebut dapat menjelaskan sejauh mana suplementasi gizi berkontribusi dalam pencegahan TB dan menjadi dasar pengembangan strategi penanggulangan yang lebih komprehensif. “Mungkin nutrisi adalah salah satu jawaban yang dapat mendampingi pengobatan TB secara medis,” katanya.
Selain penguatan pendekatan berbasis bukti ilmiah, Dante menekankan pentingnya kolaborasi dalam penanggulangan TB. Menurutnya, upaya tersebut tidak dapat hanya mengandalkan Kementerian Kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan akademisi, sektor swasta, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Keterlibatan berbagai pihak diperlukan agar upaya pencegahan dan penanganan TB dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas. Karena itu, inovasi seperti pendekatan berbasis nutrisi perlu dikaji dan dikembangkan melalui penelitian yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
“Fasilitas kesehatan merupakan tempat pelayanan, tetapi yang lebih penting adalah keterlibatan masyarakat secara luas. Dalam hal ini, diperlukan pendekatan yang lebih inovatif, termasuk melalui nutrisi,” tambahnya.
Dante juga mengapresiasi tim peneliti dan seluruh mitra yang mendukung pelaksanaan studi tersebut. Ia berharap kolaborasi Indonesia dan Tanzania dapat menghasilkan bukti ilmiah yang bermanfaat bagi pengembangan kebijakan kesehatan, khususnya dalam memperkuat pencegahan TB.
“Harapan saya sederhana, mari bekerja sebagai satu tim, saling percaya, saling terbuka, dan saling menguatkan, karena bukti terbaik lahir dari kolaborasi yang baik juga,” pungkasnya.