Sapa Pagi dengan Mata Sehat: Pesan Wamenkes dalam Hari Penglihatan Sedunia
Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono. (Kemenkes)
Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono. (Kemenkes)
Jakarta, InfoPublik - Saat alarm telepon seluler berdering di pagi hari, sebagian besar orang mungkin secara refleks meraih gawai, mematikan bunyi alarm, atau justru kembali menarik selimut. Namun, ada satu momen sederhana yang kerap luput disadari: hal pertama yang sebenarnya dilakukan tubuh saat terbangun adalah membuka mata.
Pertanyaan reflektif tersebut dilontarkan Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, saat membuka Puncak Peringatan Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day) 2026 di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Wamenkes mengajak masyarakat untuk sejenak berhenti dan merenungkan sejauh mana kita telah merawat organ yang paling setia menemani seluruh aktivitas harian kita. "Mata adalah hal pertama yang bekerja untuk kita setiap pagi. Ia yang memulai hari kita, yang menemani kita belajar, menemani kita bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari. Dan sudahkah kita memperhatikan kesehatannya dengan baik?" ujar Dante.
Di balik peran vitalnya sebagai jendela kehidupan, kesehatan mata sering kali baru mendapat perhatian saat gangguan sudah terjadi. Wamenkes membeberkan bahwa di tingkat global terdapat sekitar 1,1 miliar orang yang mengalami kelainan penglihatan, padahal 90 persen di antaranya sebenarnya dapat diatasi jika dideteksi dan ditangani sejak dini.
Di Indonesia, potret kesehatan mata masyarakat tercermin dari pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Dari 34 juta peserta yang telah memeriksakan matanya, tercatat sekitar 1,6 juta orang terindikasi mengalami kelainan atau gangguan penglihatan.
Selain itu, secara lebih rinci, pemeriksaan CKG menunjukkan kelainan mata dialami oleh sekitar 3 persen anak sekolah dan 4 persen populasi umum, sementara gangguan mata akibat katarak berada pada angka 3 persen.
Wamenkes juga mengajak masyarakat untuk merawat mata lewat kebiasaan sederhana sehari-hari dengan menerapkan 20-20-20 untuk menjaga agar penglihatan tetap jernih di tengah tingginya beban kerja dan paparan layar di era modern. "Kita sudah punya jargon 20-20-20. Jadi 20 menit mata bekerja, 20 detik mata istirahat, dan 20 kaki mata melihat jarak untuk melakukan relaksasi mata. Itu yang harus kita lakukan dan kita budayakan kepada masyarakat," tutur Wamenkes.
Edukasi budaya 20-20-20 di tempat kerja dan sekolah ini menjadi pilar penting yang mengiringi tiga pilar kebijakan strategis lainnya yakni penguatan skrining mata terintegrasi di seluruh kegiatan CKG, penuntasan akses operasi katarak BPJS, serta pemerataan distribusi dokter spesialis mata ke daerah-daerah. "Dokter spesialis mata banyak tetapi masih terkonsentrasi di kota besar," ungkapnya.
Menutup pengarahannya, Wamenkes Dante kembali menitipkan pesan humanis agar setiap orang menyayangi mata mereka mulai dari helaan napas pertama di pagi hari. "Setiap pagi ketika kita membuka mata, kita akan memulai hidup kita pada hari itu. Jangan tunggu sampai mata kita terasa berat, kabur, atau menyakitkan. Jagalah organ pertama yang bekerja untuk kita setiap hari ini dengan sebaik-baiknya," pesannya.
© Copyright 2026, All Rights Reserved