Jakarta, InfoPublik – Pemerintah terus memperkuat penanggulangan tuberkulosis (TB) di Indonesia melalui peningkatan skrining, pelacakan kontak erat, perluasan akses diagnosis, serta pendampingan pengobatan hingga tuntas.
Selama dua tahun terakhir, berbagai upaya dilakukan untuk menemukan lebih banyak kasus, memperluas jangkauan pemeriksaan, dan memutus rantai penularan penyakit tersebut.
Data Kementerian Kesehatan yang dikutip Kamis (22/10/2026) menyebutkan, penguatan penanggulangan TB dilakukan melalui integrasi skrining dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program ini menyasar keluarga serumah dan kontak erat pasien TB di 53.335 lokus yang tersebar di 514 kabupaten/kota pada seluruh provinsi di Indonesia.
Sejak April 2026, Kementerian Kesehatan juga mengintegrasikan data CKG dengan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). Integrasi tersebut bertujuan mempermudah tindak lanjut hasil skrining, mencegah pemeriksaan berulang, dan mengurangi beban pencatatan sehingga penanganan kasus dapat dilakukan secara lebih efektif.
Berdasarkan data per 14 Oktober 2026, penemuan kasus TB mencapai 647.423 kasus. Sementara itu, Global TB Report mencatat insiden TB di Indonesia mencapai puncaknya pada 2024 dan mulai menurun pada 2025. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penurunan tersebut berkaitan dengan intensifikasi skrining TB yang dilakukan Indonesia sejak 2022.
Perluas Jangkauan Pemeriksaan
Upaya menemukan kasus TB sedini mungkin turut diperkuat melalui peningkatan ketersediaan alat diagnostik. Salah satunya adalah Near Point-of-Care (NPOC) dengan metode pengambilan sampel usap lidah (tongue swab), yang dapat menjadi alternatif pemeriksaan bagi kelompok yang kesulitan menghasilkan dahak, seperti anak-anak dan lansia.
Pemerintah menargetkan distribusi alat NPOC ke 6.640 puskesmas di seluruh Indonesia. Hingga 20 Oktober 2026, sebanyak 3.317 puskesmas telah menerima alat tersebut, sedangkan distribusi ke fasilitas kesehatan lainnya masih berlangsung secara bertahap.
Selain pemeriksaan di puskesmas, skrining juga dilakukan secara jemput bola di pondok pesantren, madrasah, lembaga pemasyarakatan, dan permukiman padat penduduk. Pendekatan ini diperkuat dengan penggunaan rontgen dada (portable X-ray) berbantuan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memperluas jangkauan pemeriksaan di masyarakat.
Saat ini, sebanyak 278 unit portable X-ray telah tersedia di 210 kabupaten/kota pada 26 provinsi. Pada akhir 2026, pemerintah merencanakan penambahan 786 unit melalui APBN Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara (BA BUN) dan 50 unit dari donasi Pemerintah Amerika Serikat.
Pastikan Pengobatan hingga Tuntas
Penanggulangan TB tidak hanya berfokus pada penemuan kasus, tetapi juga memastikan pasien mendapatkan pengobatan dan menyelesaikannya sesuai standar. Keberhasilan upaya tersebut membutuhkan dukungan tenaga kesehatan, kader, dan keluarga untuk mendampingi pasien selama menjalani pengobatan.
Saat ini, tingkat keberhasilan pengobatan TB tercatat sebesar 79 persen. Pendampingan secara berkelanjutan diperlukan untuk membantu pasien mematuhi jadwal minum obat hingga pengobatan selesai dan mencegah terjadinya penularan lebih lanjut.
Pemerintah juga memperkuat upaya pencegahan melalui Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Kontak erat yang terkonfirmasi mengalami TB aktif akan mendapatkan pengobatan sesuai standar, sedangkan orang yang memenuhi kriteria untuk pencegahan diberikan TPT guna mengurangi risiko berkembangnya infeksi menjadi TB aktif.
Hingga 13 Oktober 2026, sebanyak 246.127 orang atau 18,9 persen dari kontak serumah yang menjadi sasaran telah menerima TPT. Perluasan cakupan terapi pencegahan terus didorong sebagai bagian dari strategi menekan munculnya kasus TB aktif baru.
Melalui penguatan skrining, perluasan akses diagnosis, tindak lanjut hasil pemeriksaan, serta pengobatan dan pencegahan, pemerintah berupaya memperkuat penanggulangan TB secara berkelanjutan. Dua tahun gerak nyata ini menjadi bagian dari upaya memastikan lebih banyak kasus ditemukan, lebih banyak pasien menyelesaikan pengobatan, dan rantai penularan TB dapat diputus.