Jakarta, InfoPublik – Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Wamen PPN)/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard menegaskan bahwa keberhasilan membangun kesehatan nasional tidak hanya ditentukan oleh banyaknya rumah sakit atau kecanggihan teknologi medis, melainkan oleh kemampuan membangun sistem yang mampu mencegah penyakit sejak awal.
Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi dasar penting untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Pernyataan itu disampaikan Febrian saat peluncuran Program KITA Sehat, kemitraan Indonesia dan Australia yang berfokus pada penguatan sistem kesehatan nasional, di Jakarta, Senin (20/7/2026).
Untuk menggambarkan pentingnya membangun sistem kesehatan, Febrian mengawali pidatonya dengan kisah dokter Inggris John Snow saat menangani wabah kolera di London pada 1854. Di tengah keyakinan bahwa kolera disebabkan oleh udara buruk, John Snow justru memetakan lokasi para korban hingga menemukan sumber penyebaran penyakit berasal dari satu pompa air di Broad Street.
Setelah pompa tersebut ditutup, wabah perlahan mereda. Menurut Febrian, peristiwa itu menjadi titik balik sejarah kesehatan dunia karena menunjukkan bahwa keberhasilan mengendalikan penyakit dimulai dari kemampuan memahami akar persoalan, menggunakan data sebagai dasar pengambilan keputusan, dan membangun sistem yang tepat.
"Dunia belajar bahwa kemenangan melawan penyakit tidak selalu dimulai dengan obat yang lebih canggih. Ia dimulai dengan memahami akar persoalan, membangun sistem yang benar, menggunakan data sebagai dasar pengambilan keputusan, dan memiliki keberanian untuk bertindak berdasarkan bukti," ujar Febrian.
Ia mengatakan, lebih dari 170 tahun setelah peristiwa tersebut, dunia memang telah memiliki rumah sakit modern, teknologi kesehatan yang semakin maju, hingga kecerdasan buatan yang mulai membantu proses diagnosis. Namun, pelajaran utama dari kisah John Snow tetap relevan hingga saat ini. "Bangsa yang sehat bukanlah bangsa yang hanya pandai mengobati penyakit," katanya.
Febrian menegaskan bahwa kesehatan harus ditempatkan sebagai fondasi pembangunan nasional. Tanpa masyarakat yang sehat, bonus demografi tidak akan menghasilkan produktivitas, sehingga target Indonesia Emas 2045 akan sulit dicapai.
"Tidak ada negara maju tanpa masyarakat yang sehat. Tidak ada bonus demografi tanpa generasi yang tumbuh dengan gizi yang baik. Dan tidak akan ada Indonesia Emas 2045 apabila kita gagal membangun manusia Indonesia yang sehat mulai hari ini," tegasnya.
Menurutnya, semangat tersebut menjadi dasar lahirnya Program KITA Sehat yang bukan sekadar proyek kerja sama internasional, tetapi investasi bersama untuk membangun sistem kesehatan Indonesia yang lebih kuat, tangguh, adaptif, dan siap menghadapi tantangan kesehatan di masa depan.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045, pemerintah menargetkan peningkatan usia harapan hidup menjadi 80 tahun, penurunan angka kematian ibu menjadi 16 per 100 ribu kelahiran hidup, prevalensi stunting menjadi 5 persen, penurunan insiden tuberkulosis secara signifikan, serta cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang menjangkau hampir seluruh penduduk.
Menurut Febrian, target-target tersebut bukan sekadar angka statistik, melainkan menyangkut keselamatan ibu, tumbuh kembang anak, perlindungan keluarga dari kemiskinan akibat biaya kesehatan, hingga peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Karena itu, pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai investasi ekonomi sekaligus investasi pembangunan manusia yang mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing bangsa.
Pada kesempatan itu, Febrian juga menegaskan bahwa transformasi kesehatan membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, organisasi profesi, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga penelitian, masyarakat, hingga mitra pembangunan.
Menutup sambutannya, ia kembali mengingatkan bahwa pelajaran dari John Snow tetap relevan bagi Indonesia saat ini. "Untuk menyelamatkan lebih banyak manusia, kita tidak hanya cukup mengobati penyakit. Kita harus memperbaiki sistem yang menyebabkan penyakit itu terus muncul. Indonesia Emas 2045 akan ditentukan oleh kualitas manusia Indonesia yang sehat, produktif, cerdas, dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang," pungkasnya.