Jakarta, InfoPublik - Bayangkan seorang anak berusia sembilan tahun yang asyik bermain tanpa menyadari bahwa bercak putih di kulitnya adalah awal dari sebuah perjalanan panjang yang menyakitkan. Bukan karena rasa sakit fisiknya karena kusta seringkali tidak menimbulkan rasa sakit di awal melainkan karena stigma yang mengikutinya.
Itulah kisah Syamsul Iman, seorang pria asal Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan yang hadir di atas panggung Konferensi Nasional Kusta 2026 di Jakarta, Jumat (10/7/2026), untuk membagikan kisahnya di hadapan para menteri dan gubernur dan masyarakat di seluruh Indonesia.
Syamsul mengenang masa kecilnya saat ia menganggap remeh gejala awal karena tidak terasa gatal atau sakit. "Saya hanya bermain seperti biasanya selayaknya anak kecil," ungkapnya.
Namun, ketidaktahuan itu berujung pilu. Saat keluarga mulai panik karena tangannya mulai membengkok dan kakinya mengalami luka, Syamsul sempat dibawa ke dukun karena dianggap terkena sesuatu yang bersifat mistis.
Ketika akhirnya terdiagnosa kusta dan harus menjalani pengobatan di Makassar, ia tidak hanya berjuang melawan bakteri, tetapi juga melawan kejamnya perlakuan lingkungan. Syamsul menceritakan pengalaman pahitnya saat kakinya dibakar puntung rokok oleh orang lain di sebuah rental PlayStation, dan ia dicap mengidap "penyakit kutukan".
Kisah Syamsul adalah cermin dari realitas besar yang dihadapi Indonesia saat ini. Hingga 2026, Indonesia masih menduduki posisi ketiga global dengan 16.292 kasus baru kusta. Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah angka kasus pada anak yang mencapai 9,1 persen, sebuah indikator bahwa penularan aktif masih terjadi di tengah masyarakat.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa penanggulangan kusta tidak bisa lagi hanya menjadi tugas sektor kesehatan semata. Minimnya kapasitas tenaga kesehatan dan kuatnya stigma sosial menjadi tembok besar yang harus diruntuhkan melalui kolaborasi lintas sektor untuk mencapai target "Towards Zero Leprosy 2030" atau Eliminasi Kusta 2030.
"Kita tidak mungkin mewujudkan eliminasi, kalau kasusnya tidak ditemukan. Mari temukan kasus sebanyak-banyaknya, dan obati Kusta bukan penyakit kutukan dan sangat mudah disembuhkan jika cepat diobati," pesan Menkes.
Mengembalikan Martabat, Bukan Sekadar Bantuan
Konferensi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi, terutama di 12 kabupaten/kota dengan beban kasus tinggi. Fokusnya kini bergeser: bukan hanya tentang pengobatan medis, tetapi juga tentang pemulihan martabat.
Di akhir kesaksiannya, Syamsul Iman menitipkan pesan kuat bagi seluruh pemangku kebijakan. Ia menekankan bahwa Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) memiliki hak yang sama atas pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan yang layak.
"Mereka bukan hanya sebagai objek bantuan, tetapi mereka adalah subjek ekonomi yang bisa menggerakkan ekonomi di Indonesia," tutup Syamsul, disambut tepuk tangan dari para hadirin yang memenuhi ruangan.
Perjalanan menuju Indonesia Bebas Kusta memang masih panjang, namun melalui langkah nyata dan penghapusan stigma, martabat para pejuang kusta seperti Syamsul kini mulai mendapatkan tempatnya kembali.