Jakarta, InfoPublik - Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, memaparkan capaian Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam Public Expose Pengelolaan Program dan Keuangan BPJS Kesehatan 2025 di Jakarta, Kamis (2/7/2026). Dalam pemaparannya, terungkap bahwa JKN bukan sekadar program kesehatan, melainkan menjadi penggerak ekonomi nasional yang signifikan.
Menurut Prihati Pujiwaskito, Program JKN terbukti memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi makro Indonesia. Disebutkan bahwa keberadaan program ini telah memicu peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) yang sangat besar.
"Dampak dari program JKN ini terhadap perekonomian dan kesejahteraan adalah peningkatan PDB sebesar 129 triliun," ujarnya, di hadapan Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, para pemangku kepentingan, juga media nasional.
Selain peningkatan PDB, menurutnya, program ini juga menjadi solusi bagi penyerapan tenaga kerja. Tercatat sebanyak 1,5 juta lapangan kerja baru tercipta berkat efek dari industri kesehatan yang terus berkembang. Ada tiga sektor utama yang merasakan dampak multiplier ini, yakni jasa kesehatan, industri makanan dan minuman, serta layanan sosial.
Lebih lanjut disampaikan bahwa, salah satu fungsi krusial JKN adalah sebagai pelindung kesejahteraan sosial. Berdasarkan data yang dipaparkan, JKN berhasil menyelamatkan sekitar 7 hingga 8,1 juta penduduk dari risiko kemiskinan pada periode 2018-2019. Secara statistik, program ini menurunkan probabilitas kemiskinan sebesar 2,6 persen hingga 3 persen.
Dirut BPJS Kesehatan menekankan bahwa saat ini rakyat tidak lagi merasa was-was saat jatuh sakit. "Rakyat sekarang jadi tidak takut untuk berobat dengan program JKN ini," imbuhnya, seraya menambahkan bahwa perlindungan finansial telah dirasakan oleh 14 hingga 16 juta penduduk.
Dalam aspek transparansi dan tata kelola, BPJS Kesehatan kembali menorehkan prestasi dengan meraih opini Wajar Tanpa Modifikasi (WTM) dari Kantor Akuntan Publik sebanyak 12 kali berturut-turut, atau ke-34 kalinya jika dihitung sejak era PT Askes. Selain itu, skor integritas dari KPK mencapai 80,48 dengan status "Terjaga".
Kualitas layanan pun terus mengalami peningkatan. Angka kepuasan peserta pada 2025 mencapai 92,9 persen, naik dari tahun sebelumnya yang berada di angka 92,1 persen. Peserta juga menunjukkan loyalitas tinggi dengan skor Net Promoter Score (NPS) sebesar 87,9 persen, yang menandakan tingginya kesediaan peserta untuk merekomendasikan layanan ini kepada orang lain.
Fokus pada Program Promotif dan Preventif
Untuk menjaga keberlanjutan, BPJS Kesehatan juga memperkuat program promotif dan preventif melalui Program Rujuk Balik (PRB). Hingga saat ini, sebanyak 4,28 juta jiwa telah memanfaatkan program ini setelah kondisi mereka stabil di rumah sakit. Mayoritas peserta PRB adalah penderita hipertensi (1,4 juta jiwa) dan penyakit jantung (628 ribu jiwa).
Menutup laporannya, Prihati Pujowaskito menegaskan komitmen lembaganya dalam menangani keluhan pelanggan. Dari total 132.319 pengaduan yang masuk sepanjang 2025, BPJS Kesehatan mencatat tingkat penyelesaian hingga 100 persen.
"Program ini tidak hanya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi sekaligus pelindung kesejahteraan sosial secara berkelanjutan," pungkasnya.