Jakarta, InfoPublik - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat kesiapsiagaan nasional dalam menghadapi musim kemarau dan fenomena El Nino 2026. Melalui serangkaian langkah mitigasi, pemerintah berupaya menekan risiko kesehatan masyarakat, terutama akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta penurunan kualitas air.
Salah satu inovasi utama yang diperkenalkan Kemenkes pada 2026 ini adalah Oase Udara, sebuah ruang oksigen sementara yang dirancang khusus untuk membantu warga yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan kabut asap.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin, menjelaskan bahwa Oase Udara akan diinisiasi di enam provinsi terdampak karhutla yakni, Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng, dan Kalsel. Fasilitas ini berupa tenda berukuran 6x8 meter yang dilengkapi dengan 10 hingga 20 unit konsentrator oksigen, Pendingin ruangan (AC) dan area istirahat yang nyaman, Persediaan makanan ringan, dan Petugas medis yang siaga memberikan pelayanan kesehatan.
"Masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan dapat masuk ke ruang Oase Udara ini, dan setelah kondisinya normal, mereka bisa kembali ke rumah," ujar Agus dalam webinar kesiapsiagaan bidang kesehatan dalam menghadapi dampak El Nino 2026, di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Kemenkes juga mengintensifkan pembagian masker gratis bagi kelompok rentan, seperti ibu hamil, balita, penyandang penyakit penyerta (komorbid), serta pekerja lapangan. Masyarakat diimbau untuk menggunakan masker dengan benar, yakni menutupi hidung dan mulut secara sempurna agar efektif menangani paparan asap.
Untuk mendukung edukasi publik, pemerintah menyediakan tiga buku elektronik (e-book) yang dapat diunduh secara gratis, mencakup topik: Pencegahan kebakaran hutan dan lahan, Dampak kabut asap terhadap kesehatan, dan Sistem peringatan dini krisis kesehatan.
Agus menjelaskan, El Nino tidak hanya membawa risiko kabut asap, tetapi juga kekeringan yang berdampak pada kualitas air bersih. Terkait hal itu Kemenkes mengimbau masyarakat untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta meningkatkan pengawasan kualitas air.
Dalam menangani krisis air, Kemenkes bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) yang akan mendistribusikan sekitar 500 mobil tangki air ke daerah terdampak kekeringan. Di sisi lain, Pusat Krisis Kesehatan juga telah menyiapkan bantuan 200 konsentrator oksigen tambahan untuk didistribusikan melalui PMI.
Menghadapi potensi Kejadian Luar Biasa (KLB), Kemenkes telah menyiapkan dukungan logistik melalui 11 regional yang tersebar dari Medan hingga Jayapura. Sebanyak 38.000 tenaga kesehatan dan non-kesehatan disiagakan dan siap dimobilisasi kapan saja jika terjadi keadaan darurat.
Agus menegaskan bahwa keberhasilan mitigasi ini memerlukan kolaborasi lintas sektor. "Kami berharap seluruh unsur, baik dinas kesehatan maupun pemerintah daerah, dapat bergandengan tangan melalui koordinasi dan komunikasi agar dampak El Nino dapat diminimalkan," pungkasnya.