Jakarta, InfoPublik – Kemampuan masyarakat mengenali pola demam dan tanda bahaya dengue dapat menjadi pembeda antara penanganan yang cepat dan keterlambatan yang berisiko fatal. Karena itu, penguatan edukasi publik dinilai menjadi salah satu kunci untuk menurunkan angka kematian akibat dengue dan mewujudkan target nol kematian akibat dengue pada 2030.
Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea, mengatakan bahwa dengue hingga saat ini masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia. Tingginya jumlah kasus, luasnya penyebaran wilayah, serta dampaknya terhadap angka kesakitan, kematian, dan pembiayaan kesehatan nasional menunjukkan bahwa upaya pengendalian dengue perlu terus diperkuat.
"Beberapa tahun terakhir, terutama pada 2024, kita melihat tren kasus dengue masih sangat tinggi dengan penyebaran wilayah yang semakin luas serta dampak yang signifikan terhadap angka kesakitan, kematian, maupun pembiayaan kesehatan nasional," ujarnya dalam kegiatan pengembangan media dalam rangkaian Asean Dengue Day 2026, dan dikutip InfoPublik di Jakarta, Sabtu (13/6/2026).
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa pada 2025 tercatat 161.752 kasus dengue dengan 673 kematian. Sementara itu, hingga Mei 2026, telah dilaporkan 39.672 kasus dengan 105 kematian di berbagai daerah di Indonesia.
Menurut Prima, pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam pengendalian dengue, mulai dari pengendalian vektor, penguatan surveilans, peningkatan tata laksana klinis, pemberdayaan masyarakat melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus, hingga pemanfaatan inovasi seperti Wolbachia dan vaksin dengue.
Namun, berbagai intervensi tersebut perlu berjalan dalam satu kerangka nasional yang terpadu, berbasis bukti, serta didukung koordinasi lintas sektor yang kuat. "Tantangan kita saat ini tentu memastikan semua upaya tersebut bisa berjalan dalam satu kerangka nasional yang terpadu, berbasis bukti, dan didukung koordinasi lintas sektor yang kuat," kata Prima.
Ia menegaskan, edukasi kepada masyarakat tidak boleh hanya berfokus pada pencegahan, tetapi juga harus mendorong kemampuan masyarakat untuk mengenali gejala awal dengue. Dengan pemahaman yang baik mengenai pola demam dan tanda bahaya (warning signs), masyarakat dapat segera mengambil keputusan untuk membawa pasien ke fasilitas kesehatan terdekat.
Selain itu, edukasi yang tepat juga berperan dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya pencegahan melalui gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penyimpanan air, memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, serta berbagai upaya perlindungan tambahan lainnya.
"Deteksi dini dan pencegahan harus berjalan beriringan. Masyarakat perlu memahami kapan harus waspada dan kapan harus segera mencari pertolongan medis," ujarnya.
Prima mengakui bahwa target zero dengue deaths 2030 bukanlah sasaran yang mudah dicapai. Untuk itu, diperlukan penguatan pada berbagai aspek, termasuk tata kelola program, surveilans dan pelaporan kasus, integrasi data nasional, peningkatan akses diagnosis dan tata laksana klinis, serta pengendalian vektor yang efektif. Selain itu, pemberdayaan masyarakat dan dukungan pembiayaan yang berkelanjutan juga menjadi faktor penting dalam memastikan keberhasilan pengendalian dengue di Indonesia.
Lebih lanjut, Prima mengingatkan bahwa keberhasilan menekan kematian akibat dengue tidak dapat mengandalkan sektor kesehatan semata. Pemerintah daerah, dunia pendidikan, sektor komunikasi publik, organisasi profesi, akademisi, masyarakat sipil, hingga mitra pembangunan memiliki peran penting dalam membangun kesadaran kolektif terhadap bahaya dengue. "Pendekatan yang kolaboratif dan berbasis bukti harus menjadi fondasi utama kita dalam setiap kebijakan dan implementasi program," tegasnya.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang selama ini telah berkontribusi dalam mendukung upaya pengendalian dengue di Indonesia. Melalui kolaborasi lintas sektor, penguatan sistem kesehatan, serta edukasi yang mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat, Indonesia diharapkan dapat mempercepat pencapaian target nol kematian akibat dengue pada 2030.