Jakarta, InfoPublik - Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menggelar sosialisasi Gerakan Nasional Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga atau SatuJamKu sebagai upaya memperkuat peran keluarga dalam menghadapi tantangan era digital.
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, menegaskan bahwa gerakan ini mendorong keluarga meluangkan minimal satu jam setiap hari untuk berinteraksi tanpa distraksi gawai.
“Gerakan ini ingin mengembalikan peran keluarga. Bukan gadget yang mengasuh anak, tetapi orang tua,” ujarnya dalam kegiatan yang digelar secara luring dan daring, bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, juga Kementerian Komunikasi dan Digital, di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Gerakan SatuJamKu sendiri telah diluncurkan secara resmi pada 10 Februari 2026 bertepatan dengan peringatan Safer Internet Day, hasil kolaborasi Kemenko PMK dengan berbagai kementerian, lembaga, serta mitra teknologi.
Woro mengungkapkan, penetrasi internet di Indonesia telah melampaui 80 persen, dengan mayoritas masyarakat menghabiskan waktu 4–6 jam per hari di dunia maya. Kondisi ini juga menyasar anak usia dini, di mana lebih dari 40 persen telah terpapar internet.
Namun, tingkat pendampingan orang tua masih rendah, yakni belum mencapai 30 persen. “Ini menjadi tantangan serius. Anak-anak kita sudah terhubung dengan internet, tetapi belum sepenuhnya didampingi,” jelasnya.
Ia juga menyoroti tingginya risiko paparan konten negatif. Berdasarkan laporan CyberTipline NCMEC 2024, Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dalam kasus eksploitasi anak di ranah digital. "Kondisi ini membutuhkan kerja bersama. Tidak cukup hanya mengatur dari sisi penyedia sistem elektronik, tetapi juga dari sisi keluarga sebagai pengguna,” tegasnya.
Dorong Kelekatan Emosional Keluarga
Melalui SatuJamKu, pemerintah mengajak keluarga membangun kembali interaksi langsung yang berkualitas, seperti makan bersama, beribadah, bermain, hingga berolahraga bersama.
Gerakan ini juga menjadi bagian dari implementasi Asta Mantra Keluarga Berkualitas, yang menekankan pengurangan screen time dan peningkatan green time, penguatan nilai agama dan budaya, serta peran aktif orang tua dalam pengasuhan.
“Minimal satu jam dulu. Kalau bisa lebih, tentu lebih baik. Yang penting ada interaksi fisik dan emosional yang nyata dalam keluarga,” kata Woro.
Untuk memperluas implementasi, Kemenko PMK telah berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri guna mendorong pemerintah daerah mengintegrasikan gerakan ini dalam kebijakan daerah melalui surat edaran.
Pendekatan kolaboratif juga dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari organisasi masyarakat, akademisi, dunia usaha, hingga komunitas lokal seperti TP PKK, Karang Taruna, dan Forum Anak.
Selain itu, panduan teknis pelaksanaan telah disiapkan sebagai acuan bagi pemerintah daerah dalam mengintegrasikan SatuJamKu dengan program pembangunan keluarga yang sudah berjalan. "Prinsipnya adalah kolaborasi. Kita tidak mulai dari nol, tetapi mengoptimalkan program yang sudah ada agar lebih berdampak,” ujar Woro.
Melalui gerakan ini, pemerintah berharap keluarga kembali menjadi benteng utama dalam perlindungan anak, terutama di tengah derasnya arus digitalisasi. "Satu jam berkualitas ini bukan sekadar waktu, tetapi investasi untuk membangun generasi yang sehat, tangguh, dan berkarakter,” pungkasnya.