Jakarta, InfoPublik — Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat terus memperkuat strategi komunikasi dan pengelolaan olahraga nasional melalui penguatan peran kehumasan dan pemanfaatan sport intelligence berbasis data.
Langkah ini ditegaskan oleh Ketua Bidang Media dan Humas KONI Pusat Tirto Prima Putra saat melakukan kunjungan kerja ke Surakarta, Selasa (21/4/2026).
Kunjungan tersebut disambut Ketua Umum KONI Kota Surakarta Her Suprabu dan diisi dengan pembahasan strategis terkait arah kebijakan media, kehumasan, serta penguatan pembinaan olahraga di daerah.
Tirto menegaskan bahwa humas memiliki peran krusial sebagai ujung tombak dalam membangun citra positif olahraga nasional sekaligus menjaga eksistensi organisasi.
“Soliditas kehumasan adalah kunci. Kita harus proaktif berkomunikasi dan membangun jejaring untuk menciptakan iklim informasi olahraga yang positif,” ujarnya.
Ia menambahkan, saat ini terdapat puluhan cabang olahraga di bawah naungan KONI yang membutuhkan eksposur optimal agar prestasi atlet dapat dikenal luas oleh masyarakat.
Sebagai tindak lanjut, KONI Pusat berencana membentuk forum koordinasi humas yang lebih solid antar daerah. Dalam waktu dekat, akan digelar pertemuan nasional humas KONI guna merumuskan strategi bersama dalam meningkatkan eksposur olahraga.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat narasi positif olahraga nasional sekaligus meningkatkan partisipasi publik dalam mendukung pembinaan atlet.
Sementara itu, Her Suprabu menekankan pentingnya menciptakan ekosistem olahraga yang sehat, baik dari sisi prestasi maupun tata kelola organisasi.
“Ekosistem olahraga harus sehat, tidak hanya bagi atlet, tetapi juga dalam manajemen organisasinya,” ujarnya.
Selain penguatan komunikasi, pertemuan juga menyoroti pentingnya penerapan sport intelligence dalam pembinaan olahraga modern.
Pendekatan ini mencakup pengumpulan data atlet, pemetaan potensi daerah, hingga analisis kekuatan lawan untuk mendukung penyusunan strategi yang lebih terukur.
Menurut Tirto, pemanfaatan data menjadi kebutuhan mutlak dalam meningkatkan daya saing atlet Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam diskusi tersebut, kedua pihak juga menegaskan komitmen untuk memastikan perlindungan atlet tetap menjadi prioritas utama, terlepas dari dinamika organisasi yang terjadi.
“Kondisi apapun di organisasi, atlet tidak boleh dirugikan. Pembinaan dan hak mereka harus tetap terjaga,” tegas Tirto.
Salah satu contoh konkret dampak sosial olahraga juga terlihat di Surakarta, di mana atlet berprestasi berasal dari latar belakang keluarga eks narapidana terorisme. Hal ini menunjukkan bahwa olahraga mampu menjadi instrumen inklusi sosial dan pemersatu bangsa.
Di akhir pertemuan, KONI Pusat dan daerah turut membahas kesiapan menghadapi agenda olahraga nasional, termasuk peluang Pekan Olahraga Nasional Remaja.
Sinergi antara pusat dan daerah dinilai menjadi faktor kunci dalam menciptakan sistem pembinaan olahraga yang profesional, berintegritas, dan berkelanjutan.
Kunjungan ini diharapkan menjadi momentum penguatan kolaborasi dalam mendorong kemajuan olahraga nasional, sejalan dengan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dan daya saing bangsa di kancah global.