Jakarta, InfoPublik – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) kembali menegaskan komitmen pemerintah dalam menghadirkan sistem pemetaan mutu pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.
Di Kota Bandung, Jawa Barat; pelaksanaan hari pertama TKA bagi peserta didik pendidikan kesetaraan Paket B berlangsung lancar dengan melibatkan peserta dari berbagai latar belakang, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK).
Kegiatan yang dipusatkan di SMPN 17 Bandung pada 11 April 2026 ini diikuti oleh peserta dari sejumlah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), seperti PKBM Guna Persada dan PKBM Yayasan Nura Amalia, sebagai bagian dari upaya memastikan layanan pendidikan setara bagi jalur nonformal.
Kepala PKBM Guna Persada, Ali Umar Hamdani, menjelaskan bahwa pelaksanaan TKA untuk pendidikan kesetaraan dilakukan secara terpusat di satuan pendidikan yang memiliki infrastruktur memadai, seperti perangkat komputer, jaringan internet, serta dukungan teknis. “Persiapan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari verifikasi data peserta, pengaturan ruang ujian, hingga penunjukan proktor dan teknisi agar pelaksanaan berjalan optimal,” ujar Ali, dalam keterangan tertulis yang diterima InfoPublik, Minggu (12/4/2026).
Ia menegaskan bahwa aspek inklusivitas menjadi perhatian utama. Berbagai penyesuaian disiapkan agar peserta didik berkebutuhan khusus dapat mengikuti asesmen dengan baik, termasuk penyediaan perangkat aksesibilitas, aplikasi pendukung, serta pendampingan oleh pengawas.
Bagi peserta, TKA menjadi pengalaman yang menantang sekaligus bermakna.
Heri Gunawan, peserta Paket B dari PKBM Guna Persada yang merupakan penyandang tunanetra, mengaku merasakan tantangan saat mengerjakan soal, terutama yang berbasis visual. “Cukup deg-degan, tetapi saya puas bisa menyelesaikan tes. Tantangan terbesar ada pada soal gambar dan istilah matematika,” ungkapnya.
Ia menambahkan, dukungan guru dan fasilitas yang tersedia sangat membantu, meskipun pendampingan tetap menjadi kebutuhan penting dalam proses pengerjaan soal berbasis digital.
Pengalaman serupa disampaikan Stefhanie Yemimma Aurellia dari PKBM Yayasan Nura Amalia. Ia mengaku sempat merasa tegang, namun tetap optimistis setelah melakukan persiapan. “TKA ini menegangkan, terutama pada mata pelajaran matematika, tetapi saya sudah berusaha maksimal,” ujarnya.
Pelaksanaan TKA pada pendidikan kesetaraan memiliki fungsi strategis sebagai instrumen pemetaan capaian belajar secara nasional. Hasil asesmen tidak menjadi penentu kelulusan, melainkan sebagai dasar evaluasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Adapun kelulusan tetap menjadi kewenangan masing-masing satuan pendidikan.
Di Kota Bandung, lebih dari seratus PKBM terdaftar dan melayani peserta didik dari berbagai wilayah. Tantangan pelaksanaan TKA di jalur kesetaraan antara lain terkait kesiapan infrastruktur, sumber daya manusia, serta kebutuhan adaptasi bagi peserta didik berkebutuhan khusus.
Namun demikian, dukungan pemerintah melalui penyediaan pedoman, pelatihan, serta fasilitasi sarana terus diperkuat guna memastikan asesmen berjalan inklusif dan berkualitas.
Pelaksanaan TKA ini diharapkan menjadi pijakan dalam memperkuat sistem pendidikan yang adaptif, sekaligus memastikan setiap warga belajar, tanpa terkecuali, memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan nasional.