Jakarta, InfoPublik – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq menegaskan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah merupakan fondasi penting dalam membangun karakter peserta didik sejak hari pertama memasuki sekolah. Melalui pendekatan yang aman, inklusif, dan bebas perundungan, MPLS diharapkan menjadi awal terbentuknya budaya belajar yang menghargai sesama, menumbuhkan kejujuran, serta mengembangkan potensi murid.
Penegasan itu disampaikan Wamendikdasmen saat meninjau pelaksanaan MPLS Ramah di SMP Negeri 1 Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Kamis (16/7/2026). Dalam kunjungan tersebut, Fajar berdialog dengan sekitar 60 murid baru mengenai pengalaman mereka mengikuti MPLS, cita-cita, hingga makna pendidikan sebagai bekal membangun masa depan.
Menurutnya, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter yang akan menentukan kualitas generasi bangsa. "Salah satu tujuan kita sekolah adalah melatih supaya kita jujur. Berikutnya supaya pintar, mengembangkan bakat, dan meraih cita-cita," ujar Fajar Riza Ul Haq.
Ia menegaskan, MPLS tidak boleh dimaknai sebatas pengenalan ruang kelas, guru, maupun tata tertib sekolah. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi momentum menanamkan nilai-nilai saling menghargai, menghormati guru, mencintai lingkungan sekolah, serta membangun kepercayaan diri peserta didik.
Pelaksanaan MPLS Ramah di SMP Negeri 1 Wangi-Wangi Selatan juga diperkuat dengan budaya sekolah yang menekankan kepedulian terhadap lingkungan. Berbagai kebiasaan positif diterapkan sejak awal, seperti membawa botol minum sendiri, memilah sampah organik dan anorganik, mengolah sampah menjadi kompos, serta mengintegrasikan pendidikan konservasi dalam proses pembelajaran.
Ketua Panitia MPLS SMP Negeri 1 Wangi-Wangi Selatan, Sariono, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan disusun berdasarkan panduan MPLS Ramah yang diterbitkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). "Pelaksanaan MPLS mengacu pada panduan resmi Kemendikdasmen dan kami mengembangkannya melalui Kurikulum Eduwisata yang mengintegrasikan pendidikan lingkungan, budaya, dan pariwisata sesuai karakteristik daerah," ujarnya.
Ia menambahkan, sekolah telah mendeklarasikan diri sebagai Sekolah Ramah Anak sejak tiga tahun lalu. Karena itu, seluruh tenaga pendidik berkomitmen menciptakan lingkungan belajar yang bebas dari perpeloncoan, perundungan, maupun segala bentuk kekerasan.
Pendekatan tersebut memberikan pengalaman positif bagi peserta didik baru. Salah satunya dirasakan Citra Prisana Fitra Ode yang mengaku lebih percaya diri mengikuti MPLS karena suasana sekolah yang hangat dan penuh dukungan. "Saya sangat senang dan gembira. Teman-teman sangat antusias sehingga membuat saya semakin percaya diri. Yang paling berkesan adalah guru-gurunya baik dan ramah," katanya.
Usai berdialog dengan para murid, Wamendikdasmen juga meninjau hasil Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang telah diterima sekolah. Bantuan tersebut meliputi pembangunan ruang administrasi guru, toilet, dan ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) sebagai bagian dari upaya pemerintah menciptakan lingkungan belajar yang lebih layak, aman, sehat, dan nyaman bagi seluruh warga sekolah.
Melalui implementasi MPLS Ramah yang didukung fasilitas pendidikan yang memadai, Kemendikdasmen berharap satuan pendidikan mampu menjadi ruang yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk karakter, menumbuhkan kepedulian sosial, dan mengembangkan potensi setiap murid secara optimal.