Jakarta, InfoPublik - Di Kota Takhta Suci Vatikan, Rabu (25/03/2026) menjadi saksi sejarah baru bagi Indonesia. Bahasa Indonesia kini resmi digunakan di Vatican News setelah penandatanganan MoU antara Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Dikasteri Komunikasi Takhta Suci.
Ketua Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI), Asni Ovier Dengen Paluin, tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. “Ini momen yang kami tunggu sejak lama,” ujarnya sambil tersenyum hangat.
Inisiatif penggunaan bahasa Indonesia ini lahir dari tangan AM Putut Prabantoro, Founder PWKI, bersama Lucius Gora Kunjana pada Juni 2022. Mereka percaya bahasa Indonesia layak hadir di panggung internasional, khususnya di Vatikan.
PWKI memandang bahasa sebagai jembatan. Setiap kata yang diucapkan, setiap kalimat yang disusun adalah upaya untuk menempatkan Indonesia dalam peta komunikasi global.
Mayong Suryo Laksono, penasihat PWKI, menegaskan bahwa perjalanan ini bukan sekadar simbol, tetapi relevan secara praktis. "Indonesia memiliki jumlah penduduk besar, banyak peziarah ke Vatikan, dan kontribusi signifikan melalui para biarawan dan biarawati," ujarnya.
Ketika Yubelium 2025 menjadi bukti. Indonesia menempati urutan kedua terbanyak peziarah ke Vatikan, hanya kalah dari Italia. Fakta ini semakin menguatkan relevansi bahasa Indonesia.
Pada Juni 2022, PWKI resmi mengajukan usulan penggunaan bahasa Indonesia kepada Dubes RI untuk Takhta Suci, Laurentius Amrih Jinangkung.
Dukungan Dubes Laurentius menjadi titik awal, meski tugasnya hanya beberapa bulan sebelum dipanggil kembali ke Indonesia sebagai Dirjen Hukum dan Perjanjian Internasional Kementerian Luar Negeri RI.
Sebelum meninggalkan Vatikan, Dubes Laurentius meminta KBRI melanjutkan komunikasi resmi dengan Dikasteri Komunikasi. Ini memastikan usulan tidak terhenti.
Pada November 2022, PWKI mengadakan kunjungan bersejarah ke Vatikan. Mereka beraudiensi dengan Paus Fransiskus, sambil memaparkan tujuan penggunaan bahasa Indonesia di Vatican News.
Audiensi itu menjadi momen haru. Paus Fransiskus menegaskan peran Indonesia sebagai negara sumber biarawan dan biarawati dunia. Pengakuan ini memperkuat keyakinan delegasi.
Pertemuan ini juga diikuti diskusi dengan Dikasteri Komunikasi, di mana delegasi PWKI didampingi Kuasa Usaha Ad Interim KBRI, Lina Yanti Dilliane, dan staf KBRI lainnya.
Dorongan untuk memperjuangkan bahasa Indonesia semakin kuat setelah pertemuan Paskah Sedunia pada Mei 2022, bertajuk "Indonesia Goes To Continents". Sekitar 4.000 biarawan dan biarawati dari lebih 70 negara hadir secara hybrid.
PWKI melihat pertemuan ini sebagai bukti pengaruh Indonesia dalam kehidupan religius global. Bahasa Indonesia dianggap layak menjadi salah satu bahasa resmi.
Pada awalnya, PWKI mempelajari situasi ini jauh sebelum 2022. Mereka menilai Vatikan memiliki posisi strategis, tetapi bahasa Indonesia belum mendapat ruang komunikasi resmi.
Mayong menambahkan, “Bandingkan dengan Malaysia, India, Mongolia, atau Kanada, bahasa mereka sudah digunakan. Indonesia jelas lebih relevan.”
Setelah audiensi, PWKI kembali ke Indonesia dengan laporan lengkap. Pekerjaan rumah mereka diteruskan oleh Konferensi Waligereja Indonesia.
Ketika M Trias Kuncahyono diangkat sebagai Dubes RI untuk Takhta Suci, PWKI menyampaikan progres dan pekerjaan rumah yang belum selesai.
Pada April 2024, pertemuan kembali diadakan di Vatikan, difasilitasi KBRI. Delegasi PWKI dipimpin Mayong Suryo Laksono, menegaskan pentingnya MoU resmi.
Sebelum keberangkatan, rombongan memohon restu Kardinal Ignatius Suharyo dan melaporkan tujuan kunjungan.
Dalam pertemuan April 2024, Dikasteri memastikan penggunaan bahasa Indonesia hanya bisa dilakukan melalui MoU resmi antara KWI dan pihak Vatikan.
Persiapan lobi dan koordinasi menjadi fokus PWKI, KBRI, dan KWI. Semua pihak bekerja tanpa lelah selama berbulan-bulan. Setiap perjalanan PWKI selalu membawa doa dan harapan. Dari ruang pertemuan sunyi hingga koridor Vatikan, mereka membawa suara bangsa.
Asni Ovier mengingat betul momen menunggu berjam-jam sebelum bertemu pejabat Dikasteri. Kesabaran dan senyum menjadi senjata mereka.
AM Putut Prabantoro juga menekankan, langkah ini juga sejalan dengan kebijakan geopolitik Presiden Prabowo Subianto, yakni menjadi bagian dari "Good Neighbour Policy".
Bukti Pengakuan Internasional
Bahasa Indonesia di Vatikan menjadi bukti nyata diplomasi lunak dan pengakuan internasional terhadap budaya bangsa.
Karena itu, PWKI menegaskan bahwa ini bukan sekadar kemenangan organisasi, tetapi kemenangan budaya dan identitas bangsa. Masing-masing delegasi membawa kisah pribadi. Dari jam terbang jurnalistik hingga pengalaman doa bersama, semuanya menyatu menjadi narasi sejarah.
Perjuangan PWKI juga menunjukkan kekuatan kolaborasi. Tanpa KBRI dan KWI, perjalanan ini tidak mungkin berhasil. Keputusan untuk menggunakan bahasa Indonesia di media Vatikan menjadi simbol persahabatan bilateral yang kuat.
Putut Prabantoro mengenang diskusi malam dengan rekan-rekannya tentang strategi diplomasi bahasa. Semua berangkat dari niat tulus dan cinta tanah air.
Dalam audiensi dengan Paus, mereka juga menekankan pentingnya bahasa Indonesia untuk menjangkau umat di seluruh dunia. Para biarawan dan biarawati Indonesia merasa bangga. Bahasa mereka kini resmi digunakan di kanal internasional Vatikan.
Satu hal, Mayong Suryo Laksono menekankan bahwa momen ini akan menjadi inspirasi bagi generasi muda jurnalis dan pemuka agama di Indonesia.
PWKI juga mencatat, langkah ini menunjukkan kemampuan bangsa untuk hadir di forum global melalui diplomasi budaya. Dari segi geopolitik, Vatikan memiliki hubungan formal dengan 184 negara, menjadikan penggunaan bahasa Indonesia strategis untuk pengakuan internasional.
Setiap penandatanganan MoU disertai senyum dan doa. Tidak ada kata terburu-buru, hanya ketulusan dan keyakinan. Asni Ovier menyebut, “Kami ingin setiap kata bahasa Indonesia terdengar di Vatikan, sebagai simbol persatuan dan identitas bangsa.”
PWKI menegaskan bahwa perjalanan ini adalah contoh diplomasi berbasis manusia, bukan hanya birokrasi. Keberhasilan ini juga menegaskan posisi Indonesia sebagai sahabat global, bukan sekadar peserta pasif dalam forum internasional.
Dari meja pertemuan hingga ruang doa, bahasa Indonesia kini menjadi bagian resmi media Vatikan, membuktikan kerja keras dan kesabaran manusia.
Jurnalis senior, Putut Prabantoro menambahkan bahwa pencapaian ini menjadi pelajaran penting bagi semua organisasi dan komunitas: ketekunan dan kerja sama membuahkan hasil.
Untuk itu, PWKI juga berencana mendokumentasikan seluruh perjalanan ini sebagai inspirasi bagi generasi berikutnya. Delegasi Indonesia yang hadir di Vatikan membawa rasa bangga, doa, dan harapan agar hubungan budaya ini terus berkembang.
Bahasa menjadi simbol diplomasi manusiawi. Setiap kalimat yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia membawa pesan persahabatan dan toleransi.
Penggunaan bahasa Indonesia di Vatican News juga menandai 75 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Vatikan.
Oleh karena itu, PWKI berharap momen ini menjadi inspirasi bagi dunia bahwa bahasa dan budaya dapat menjadi alat diplomasi efektif. Dalam setiap perjalanan dan pertemuan, delegasi Indonesia belajar tentang kesabaran, kolaborasi, dan nilai kemanusiaan.
Kini, setiap berita, pernyataan, atau pesan di Vatican News dapat diterima lebih luas, khususnya oleh komunitas Katolik Indonesia.
Sejarah penggunaan bahasa Indonesia di Vatikan bukan sekadar pencapaian birokrasi. Ini adalah kisah manusia: dedikasi, ketekunan, dan cinta tanah air yang diterjemahkan menjadi bahasa universal.