Tahapan Child Grooming dan Cara Orang Tua Mendeteksinya
Ilustrasi praktik child grooming (Foto: Kemendukbangga)
Ilustrasi praktik child grooming (Foto: Kemendukbangga)
Jakarta, InfoPublik — Psikolog Anak dan Remaja Ferlita Sari mengingatkan bahwa child grooming bukan semata-mata ditentukan oleh perbedaan usia, melainkan oleh ketimpangan kuasa dan pola manipulasi psikologis dalam sebuah relasi. Hal tersebut disampaikannya dalam Acara Kelas Orang Tua Bersahaja yang digelar Kemendukbangga, Rabu (28/1/2026).
Ia menjelaskan, child grooming merupakan proses membangun relasi tidak setara dengan tujuan menguasai, mengontrol, dan menciptakan ketergantungan emosional pada anak atau remaja. Kuasa tersebut dapat bersumber dari usia, status sosial, jabatan, ekonomi, maupun otoritas simbolik, seperti guru, pelatih, atau figur yang dianggap lebih berpengalaman. "Relasi beda usia tidak otomatis disebut grooming. Yang menentukan adalah dinamika relasinya: apakah ada upaya mengontrol, memanipulasi emosi, dan mengambil keuntungan dari ketergantungan korban,” ujar Ferlita.
Menurutnya, anak dan remaja menjadi kelompok rentan karena identitas diri yang belum stabil, kebutuhan validasi yang tinggi, serta kematangan emosi dan kognitif yang masih berkembang. Secara neurologis, perkembangan prefrontal korteks bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan—belum sempurna hingga usia sekitar 25 tahun, sehingga remaja lebih mudah dikuasai emosi.
Ferlita menekankan bahwa anak di bawah 18 tahun belum memiliki kapasitas penuh untuk memberikan persetujuan (consent), sehingga relasi dengan orang dewasa selalu berisiko dieksploitasi. "Karena itu, orang tua diminta tidak hanya terpaku pada perbedaan usia, tetapi jeli membaca tanda-tanda ketimpangan psikologis dalam hubungan anak," pesannya.
Ia memaparkan sejumlah ciri relasi yang patut diwaspadai, antara lain adanya manipulasi emosi seperti membuat anak merasa “paling dimengerti”, mendorong munculnya rahasia dari keluarga, menanamkan rasa bersalah, serta membangun ketakutan jika hubungan diketahui orang lain. Anak juga kerap menjadi lebih tertutup, defensif, dan sangat protektif terhadap gawai. “Grooming berbeda dengan pedofilia. Pada pedofilia, unsur seksual biasanya muncul sejak awal. Pada grooming, tahap awalnya justru sangat halus, non-seksual, dan tampak seperti perhatian tulus,” jelasnya.
Karena itu, Ferlita juga menguraikan bahwa child grooming memiliki tahapan, mulai dari targeting (memilih anak yang membutuhkan perhatian), membangun kedekatan intens, mengisi kebutuhan emosional, isolasi halus dari keluarga dan lingkungan, hingga ketergantungan, seksualisasi, dan kontrol. "Pada tahap akhir, korban sering kali sudah terikat secara emosional sehingga sulit menyadari atau menolak eksploitasi," ujarnya.
Di era digital, praktik ini juga banyak terjadi di dunia maya melalui pesan pribadi media sosial, gim daring, atau akun palsu. Modusnya meliputi ajakan pindah ke platform privat, pengaturan jam online, hingga normalisasi percakapan bernuansa seksual.
Sebagai langkah pencegahan, Ferlita mengajak orang tua mengajukan tiga pertanyaan kunci saat mengamati relasi anak: siapa yang memiliki kuasa lebih besar, apakah hubungan tersebut membuat anak semakin mandiri atau justru tergantung, serta apakah ada rahasia, ketakutan, atau rasa bersalah yang sengaja dibangun. “Relasi yang sehat membuat remaja tetap punya pilihan, berani berkata tidak, tidak takut kehilangan, dan tidak terisolasi dari keluarga. Keterbukaan dan komunikasi yang aman di rumah adalah benteng utama pencegahan child grooming,” pungkasnya.
© Copyright 2026, All Rights Reserved