Superflu Istilah Populer, Bukan Diagnosa Medis
Ilustrasi wabah influenza subtipe H3N2. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi wabah influenza subtipe H3N2. (Foto: Istimewa)
Jakarta, InfoPublik - Istilah “superflu” belakangan ramai diperbincangkan di media sosial dan ruang publik. Banyak masyarakat mengira superflu merupakan penyakit baru yang lebih berbahaya dibanding flu biasa. Padahal, secara medis, superflu bukanlah istilah kedokteran, melainkan sebutan populer untuk influenza A subtipe H3N2 yang saat ini mengalami peningkatan kasus secara global.
Dokter Spesialis Paru dr. Agung Prasetyo, Sp.P. dari RSUD Pasar Rebo menegaskan bahwa dunia medis tidak mengenal istilah superflu. Menurutnya, virus yang dimaksud tetap merupakan virus influenza yang sudah lama dikenal, khususnya influenza tipe A yang memang memiliki kemampuan bermutasi dan berpotensi menyebabkan lonjakan kasus musiman. “Virusnya tetap influenza, bukan penyakit baru. Influenza tipe A memang paling mudah bermutasi dan sering memicu peningkatan kasus, termasuk subtipe H3N2,” jelas dr. Agung dalam webinar edukasi kesehatan yang digelar Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Dalam kesempatan tersebut, dr. Agung mengajak masyarakat untuk memahami jenis influenza agar tidak mudah panik. Ia menjelaskan bahwa influenza merupakan infeksi saluran pernapasan akibat virus yang terbagi menjadi tiga tipe utama.
Influenza tipe A merupakan jenis yang paling mudah bermutasi dan kerap memicu peningkatan kasus, termasuk subtipe H3N2. Sementara Influenza tipe B umumnya lebih ringan dan sering ditemukan di lingkungan sekolah atau perkantoran, sedangkan influenza tipe C tergolong jarang dan tidak menyebabkan wabah.
Ia juga menjelaskan bahwa influenza memiliki pola musiman. Di belahan bumi utara, kasus biasanya meningkat pada akhir hingga awal tahun, sedangkan di belahan bumi selatan terjadi pada pertengahan tahun. “Saat ini peningkatan kasus influenza A(H3N2) dilaporkan di puluhan negara, termasuk kawasan Asia Tenggara. Kondisi ini perlu diwaspadai, namun tidak perlu disikapi dengan kepanikan berlebihan,” tambahnya.
Bedakan Influenza dengan Gangguan Pernapasan Lain
Dokter Agung menekankan pentingnya membedakan influenza dengan gangguan pernapasan lain yang kerap disalahartikan. Influenza umumnya disertai demam tinggi di atas 38 derajat Celsius, nyeri otot dan sendi, serta rasa lemas berat.
Sementara selesma (common cold) biasanya hanya ditandai hidung meler dan rasa tidak enak badan tanpa demam tinggi. Adapun rinitis alergi ditandai bersin-bersin dan hidung berair, yang sering muncul pada pagi hari atau saat cuaca dingin. "Batuk kronis juga tidak selalu disebabkan gangguan paru. Bisa saja dipicu oleh asam lambung atau GERD. Pemahaman ini penting agar masyarakat dapat menentukan langkah penanganan yang tepat,” jelasnya.
Serlain itu menurutnya, beberapa kelompok diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi akibat influenza. Kelompok tersebut meliputi lansia, ibu hamil, perokok aktif maupun pasif, serta penderita penyakit penyerta seperti asma, penyakit jantung, diabetes, obesitas, dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengimbau kelompok rentan untuk lebih waspada terhadap gejala influenza dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila kondisi tidak kunjung membaik. Penanganan influenza pada umumnya bersifat suportif, meliputi istirahat yang cukup, konsumsi cairan, pemenuhan nutrisi seimbang, serta penggunaan obat pereda gejala. Antibiotik tidak dianjurkan, kecuali terdapat infeksi bakteri sekunder, sedangkan antivirus hanya diberikan berdasarkan indikasi medis tertentu. “Masyarakat disarankan segera ke fasilitas kesehatan apabila gejala tidak membaik setelah tiga hari, muncul sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, atau kondisi justru memburuk setelah sempat membaik,” pesannya.
Dinas Kesehatan DKI Jakarta menegaskan bahwa langkah pencegahan sederhana tetap menjadi kunci pengendalian influenza. Upaya tersebut antara lain dengan rajin mencuci tangan, menggunakan masker saat sakit, menerapkan etika batuk dan bersin, menjaga kebersihan lingkungan, serta menghindari rokok.
Sebagai bagian dari kewaspadaan dini, layanan pemeriksaan Influenza Like Illness (ILI) juga tersedia di sejumlah puskesmas di Jakarta, antara lain Puskesmas Tanah Abang, Pademangan, Cengkareng, Kebayoran Lama, dan Duren Sawit.