Jakarta, InfoPublik – Bonus demografi menjadi peluang besar sekaligus tantangan bagi Indonesia. Saat ini jumlah penduduk usia produktif (15–64 tahun) jauh lebih besar dibandingkan penduduk usia non-produktif. Namun potensi ini hanya akan menjadi kekuatan apabila seluruh penduduk usia produktif, termasuk perempuan, mendapatkan akses dan ruang yang sama untuk berpartisipasi dalam dunia kerja.
Di tengah situasi tersebut, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan Indonesia masih berkisar di angka 56 persen. Artinya, hampir separuh perempuan usia produktif belum dapat berkontribusi optimal terhadap perekonomian nasional. Salah satu penyebab utamanya adalah terbatasnya fasilitas pengasuhan anak yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan terutama bagi para ibu bekerja.
Menjawab tantangan ini, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) menghadirkan Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya) sebagai solusi nyata.
Dalam sambutannya, Plt. Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, Puji Prihatiningsih, dalam workshop bersama untuk Indonesia Emas 2045, secara daring di Jakarta, Selasa (18/11/2025) menyampaikan bahwa Tamasya merupakan salah satu program prioritas Kemendukbangga/BKKN yang dirancang untuk menyediakan layanan pengasuhan anak usia dini yang aman, berkualitas, dan terjangkau. “Tamasya bukan hanya tempat penitipan anak, melainkan pusat pengasuhan holistik yang menggabungkan stimulasi tumbuh kembang, edukasi bagi orang tua dan pengasuh, layanan gizi dan kesehatan dasar, serta pembinaan karakter dan sosial emosional anak,” jelas Puji.
Dengan menghadirkan Tamasya di lingkungan kerja, kawasan industri, maupun komunitas, pemerintah berharap orang tua dapat bekerja dengan tenang, sementara anak-anak tetap memperoleh pengasuhan yang terbaik. "Inilah bentuk nyata kapitalisasi bonus demografi melalui pembangunan keluarga karena kesejahteraan keluarga merupakan fondasi utama produktivitas nasional," ujarnya.
Puji menegaskan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat memberikan tiga dampak utama: Meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pengasuhan anak usia dini sebagai fondasi pembentukan karakter dan kualitas SDM menuju Indonesia Emas, Memperkuat sinergi dan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, hingga sektor swasta dalam mengembangkan Tamasya di berbagai wilayah, dan Meningkatkan komitmen dan partisipasi aktif pemangku kepentingan untuk memastikan keberlanjutan program Tamasya secara nasional.
Ia berharap kegiatan ini mampu melahirkan komitmen bersama untuk memperluas jangkauan dan dampak program Tamasya di seluruh Indonesia. “Kami menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra lintas sektor di tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota yang terus berkolaborasi dalam mewujudkan keluarga Indonesia yang tangguh, anak-anak yang bahagia, dan generasi yang unggul,” ujarnya.